Maumere – NTT, 2 – 5 Mei 2018 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Maumere pada tanggal 2 s/d 5 Mei 2018 merupakan pelaksanaan lokalatih yang terakhir dari 4 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Yayasan Penabulu dan diselenggarakan atas dukungan CEPF.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Maumere terdiri 13 orang dari 10 organisasi mitra CEPF PFA 7, antara lain:
1. Bernadus Sambut, Yayasan Tananua Flores
2. Magdalena R Hepat, Program manager yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial
3. Honorarius Quintus E, Staff Dokumentasi dan Komunikasi Wahana tani mandiri (WTM)
4. Yohanes E. N. , Ketua Divisi Pendidikan dan Pengembangan Yayasan Tunas Jaya
5. Vinsensius Tuas Koi, Pemberdayaan Perempuan dan Anak Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) SVD Ruteng
6. Yohanes Bosko Ritan, Staf Media dan Advokasi Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (BARAKAT)
7. Muhammad Azmi, Staff Riset Yayasan Komodo Survival Program
8. Wilhelmus W. Woda, Staff Lapangan Wahana tani mandiri (WTM)
9. Dedy Alexander S., Koordinator Pertanian Wahana tani mandiri (WTM)
10. Mikael Puka, Staff Lapangan Yayasan Ayu Tani
11. Alfonsus Heri, Koordinator Program Yayasan kasih Mandiri Flores Alor Lembata (SANDI FLORATA)
12. Daniel Laga, Staf Lapangan Yayasan Komodo Indonesia Lestari

Dalam pelaksanaan lokalatih di Maumere ini berbeda dengan pelaksanaan di 3 wilayah sebelumnya. Jika di wilayah sebelumnya peserta mayoritas adalah pimpinan/pengambil kebijakan organisasi, sedangkan di Maumere semua peserta bukan pimpinan/pengambil kebijakan organisasi.

Fasilitator dari Yayasan Penabulu yang terlibat dalam Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Maumere, antara lain:
1. Khairi Syah Fitria
2. Ratna Dwi Puspitasari

2. Catatan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh Fasilitator dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Tahapan dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Maumere

Hari ke 1

Pada hari pertama, kegiatan lokalatih dimulai dengan perkenalan. Perkenalan dilakukan dengan cara masing-masing peserta untuk menggambar di kertas tentang organisasi yaitu nama, fokus isu, area intervensi dan area kerja organisasi. Hasil gambar di presentasikan oleh masing-masing peserta sekaligus memperkenalkan nama dan posisi peserta di organisasi. Setelah perkenalan dilakukan, fasilitator memaparkan tentang agenda untuk empat hari kedepan.

Dimulai dengan materi pertama yaitu tentang “Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya?”. Mengawali materi pertama, masing-masing peserta menceritakan pengalaman selama berorganisasi, berapa lama telah bergabung dengan organisasi, dan alasan sampai saat ini masih bergabung di organisasi. Beberapa kesimpulan jawaban yang diperoleh dari peserta antara lain karena kepedulian, karena memiliki kemampuan sehingga mempunyai kewajiban untuk berbagi ilmu, dan beberapa menganggap bahwa organisasi sebagai tempat belajar sekaligus bekerja. Mengapa penggalian informasi dari peserta ini perlu dilakukan? Yaitu untuk melihat secara global pemahaman masing-masing peserta terhadap organisasi sebelum membawa materi ke topik khusus tentang mobilisasi sumber daya organisasi.

Setelah dilakukan penggalian pemahaman peserta terhadap organisasi, peserta diajak diskusi mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya. Beragam pandangan dari peserta mengapa mobilisasi sumber daya harus dilakukan oleh organisasi, secara umum adalah bahwa organisasi membutuhkan pendanaan demi keberlanjutan organisasi.

Selanjutnya peserta diajak untuk mengingat kembali tentang visi dan misi organisasi, mengingat kembali apa mimpi organisasi, apakah kerja-kerja yang dilakukan organisasi sesuai dengan tujuan organisasi. Diskusi terkait visi dan misi organisasi bersama peserta ini mendorong peserta untuk kembali lagi kepada alasan mengapa organisasi berdiri. Kemudian mengajak peserta untuk melihat apakah misi yang dilakukan untuk mencapai visi sudah sesuai. Harapan dengan adanya diskusi ini adalah sebagai refleksi atas kerja-kerja di masing-masing organisasinya yang telah dilakukan. Akan tetapi, dikarenakan tidak semua peserta adalah menjadi bagian dari pendiri organisasi dan mayoritas adalah staf pelaksana maka banyak peserta yang belum memahami visi dan misi organisasi. Bahkan mayoritas peserta tidak mengetahui visi organisasi secara utuh.

Membahas tentang misi organisasi, peserta diarahkan pada sebuah pertanyaan tentang sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan misi organisasi. Peserta diajak untuk mengidentifikasi sumber daya apa saja yang dibutuhkan dan sumber daya apa yang sudah dimiliki oleh masing-masing organisasi. Peserta per organisasi melakukan simulasi menggunakan kertas plano dengan mengidentifikasi:
a. Sumber daya apa yang dibutuhkan organisasi untuk mendukung misi dan memberikan peringkat dari masing-masing sumber daya yang dibutuhkan mana yang dianggap paling penting
b. Sumber daya yang dimiliki organisasi saat ini dan membandingkan dengan sumber daya yang dibutuhkan, jika yang dibuthkan sudah dimiliki maka berapa presentase yang telah dimiliki sehingga bisa diketahui berapa presentase yang dibutuhkan oleh organisasi

Dalam tahapan ini, harapannya peserta selain mengenali sumber daya yang dibutuhkan, peserta juga bisa melihat apa saja sumber daya yang sudah dimiliki oleh organisasi. Dengan begitu, organisasi akan mengetahui sumber daya apa yang masih harus dipenuhi untuk kelanjutan kerja-kerja organisasi.

Setelah masing-masing organisasi memahami tentang kebutuhan sumber daya bagi organisasi, dan melihat sumber daya organisasi yang dimiliki, peserta diajak untuk melihat lagi ke dalam organisasi dan mengingat dalam kurun waktu 3 sampai dengan 5 tahun terakhir apa yang terjadi dengan organisasi. Beberapa peserta yang belum lama bergabung di organisasi belum bisa memberikan gambaran mengenai apa yang telah terjadi di orgaisasi. Tetapi bagi beberapa peserta yang sudah lebih dari 3 tahun bisa menggambarkan situasi yang kebanyakan terjadi di organisasi adalah datang dan perginya lembaga donor, dan juga tingkat keluar masuknya staf yang sangat tinggi. Dalam melihat keluar dan membayangkan kira-kira trend apa yang akan terjadi dalam 5 tahun kedepan, benyak peserta yang tidak bisa membayangkan terkait dengan trend yang akan terjadi. Kemudian, peserta diajak untuk membayangkan, akan menjadi organisasi yang seperti apa dalam kurun waktu 5 tahun kedepan. Sebagian peserta menjawab organisasi akan bubar dalam 5 kedepan. Hal ini setelah peserta mendapatkan gambaran tentang situasi lembaga donor di Indonesia.

Diskusi tentang “Apa yang terjadi pada organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir”, “Trend yang akan muncul dalam 3 sampai 5 tahun kedepan”, dan “Apa yang terjadi dengan organisasi 5 tahun kedepan” mengajak peserta untuk melihat tantangan dan peluang yang harus dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Dari tahapan inilah peserta kemudian diajak untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam melakukan mobilisasi sumber daya organisasi menggunakan metode SWOT. Metode ini dilakukan untuk organisasi bisa mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi terkait sumber daya dan mengidentifikasi peluang apa yang bisa diambil oleh organisasi dan tantangan apa yang harus dihadapi oleh organisasi dalam pemenuhan sumber daya untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Analisa bersama hasil identifikasi SWOT ini menjadi sesi penutup hari pertama.

Hari ke 2

Pada hari kedua, kegiatan lokalatih dimulai dengan mengingat kembali materi yang telah didiskusikan di hari pertama selama 30 menit. Lalu dilanjutkan dengan materi “Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil”. Penyampaian materi ini lebih kepada paparan tentang sumber daya organisasi dan mobilisasi sumber daya organisasi. Peserta juga diajak untuk memahami peran mobilisasi sumber daya bahwa betapa pentingnya melakukan mobilisasi sumber daya untuk keberlanjutan kerja-kerja organisasi. Peserta diharapkan untuk bisa menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan karakteristik dan basis kerja masing-masing organisasi. Secara umum, ada 3 basis kerja organisasi yaitu organisasi berbasis konstituen, organisasi berbasis kompetensi dan organisasi berbasis advokasi. Berdasarkan karateristik dan basis kerja organisasi akan mempengaruhi bentuk mobilisasi sumber daya yang bisa dilakukan oleh organisasi. Pada sesi ini, masing-masing organisasi diajak untuk menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

Setelah istirahat siang, peserta diajak untuk melihat kedalam organisasi masing-masing apakah organisasinya telah cukup siap untuk melakukan mobilisasi sumber daya dengan materi “Menyiapkan Organisasi Sebagai Penggalang Sumber Daya”. Materi ini merupakan kesimpulan dari diskusi “Mengapa organisasi melakukan mobilisasi sumber daya” dan “Konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya”. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya, 3) Organisasi yang dalam melakukan mobilisasi sumber daya mampu menyeimbangkan antara tujuan dan hasil yang diharapkan antara individu, organisasi dan penerima manfaat, 4) Organisasi masyarakat sipil sebagai pengelola dana publik yang mampu untuk melakukan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Materi dilanjutkan dengan “Maksimalisasi Pemanfaatan TIK dalam Mobilisasi Sumber Daya Organisasi”. Dalam sesi ini peserta diajak untuk melihat sejauh apa TIK bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja-kerja mobilisasi sumber daya. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dalam pemanfaatannya. Pada sesi ini, peserta melakukan simulasi terkait pengelolaan TIK di organisasi dan pengembangan kedepannya seperti apa. Dari hasil presentasi peserta, masih banyak organisasi di Maumere yang belum memiliki website dan sosial media, hal ini dikarenakan belum tersedianya staf khusus pengelola TIK, merasa belum terlalu penting untuk eksis di Internet, tidak ada dana khusus untuk membuat website dan juga karena kendala akses internet di beberapa wilayah tempat organisasi. Fasilitator memberikan tips bagaimana jika organisasi belum bisa mengelola sebuah website dan sosial media yaitu dengan menggunakan fasilitas Google Bisnis serta mengembangkan buku atau media informasi dalam bentuk cetak atau gambar.

Menutup hari kedua, peserta diajak menulis tentang perasaan yang dialami baik yang menyenangkan maupun yang menggembirakan setelah mengikuti proses lokalatih selama 2 hari.

Hari ke 3

Pada hari ketiga, diawali dengan materi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”.
Sebelum memulai materi lebih jauh, fasilitator melakukan penggalian terlebih dahulu terkait dengan pengelolaan relawan di masing-masing organisasi. Sebagian besar organisasi mengelola relawan melalui proses “kaderisasi”. Jadi, relawan yang dimaksud adalah Kader, sehingga adanya ketidak sesuain materi yang disampaikan dengan situasi pada sebagian besar organisasi. Kader yang disebut relawan tersebut adalah kelompok dampingan yang kemudian membantu organisasi dalam melakukan kerja-kerja lapangan yang mendapat dukungan berupa gaji rutin meskipun tidak sebesar gaji yang diterima oleh staf. Situasinya adalah para kader ini akhirnya secara ketergantungan meengandalkan support dari organisasi sehingga jika tidak ada support dari organisasi maka kader juga tidak melakukan tugasnya di lapangan. Situasi ini yang kemudian membuat penyampaian materi relawan tidak bisa diterima oleh sebagain besar organisasi di Maumere. Diskusi terkait dengan pengelolaan kader organisasi menjadi bahan yang lebih menarik. Akan tetapi, untuk tetap membawa bahwa kepada pemahaman bahwa organisasi membutuhkan relawan, dan bagaimana cara mengelola relawan secara singkat materi pengelolaan relawan tetap disampaikan. Titik tekan dalam penyampaian materi pengelolaan relawan di organisasi adalah relawan sebaagai salah satu aset organisasi yang seharusnya dikelola dengan sebaik-baiknya.

Setelah istirahat siang dilanjutkan ke penyampaian materi “Membangun Strategi Pelibatan Para Pihak”. Para pihak yang dimaksud disini adalah pihak-pihak diluar organisasi yang mendukung kerja-kerja organisasi. Dalam sesi ini, peserta melakukan simulasi untuk mengidentifikasi siapa pihak-pihak luar yang bisa dilibatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan template berisi empat kotak yaitu; Kotak 1 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis dan dekat, kotak 2 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis tetapi jauh, kotak 3 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan kotak 4 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis dan jauh.

Setelah melakukan identifikasi pihak menjadi empat tingkat strategis, peserta diajak untuk mengidentifikasi irisan kebutuhan dari masing-masing pihak yang dilibatkan dan dukungan apa yang diharapkan oleh organisasi dari pihak-pihak yang dilibatkan. Berdasarkan dari irisan kebutuhan antara pihak dan bentuk dukungan yang diharapkan oleh organisasi, selanjutnya dilakukan identifikasi strategi pendekatan yang harus dilakukan untuk menjalin kerjasama dengan pihak tersebut. Tentunya kepada masing-masing pihak mempunyai strategi yang berbeda.

Poin penting yang ditekankan kepada peserta adalah, ketika organisasi akan melakukan kerjasama dengan pihak luar maka organisasi harus mempunyai sebuah “produk”. Produk organisasi bukanlah program atau kegiatan, produk juga tidak selalu berupa barang, bisa berupa unit layanan, menu layanan, tools/perangkat, dan juga kerja kolaboratif. Produk bisa lahir dari sebuah program/proyek yang telah dijalankan, ataupun sebaliknya bisa melahirkan program/proyek. Produk organisasi inilah yang akan ditawarkan kepada pihak luar yang akan dilibatkan sebagai dasar kerjasama.

Dalam memahami produk organisasi, metode yang digunakan adalah menggunakan kanvas. Metode kanvas akan memandu peserta untuk menyusun sebuah konsep sederhana dalam melahirkan produk. 7 poin penting dalam metode kanvas antara lain:
1. Menentukan siapa penerima manfaatnya. Dalam menentukan penerima manfaat, organisasi harus mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat. Dalam mengidentifikasi permasalahan, organisasi harus bisa melihat lebih jauh lagi apa yang melatar belakangi permasalahan tersebut. Dengan begitu, organisasi bisa menentukan apa yang bisa diberikan kepada penerima manfaat.
2. Menentukan produk. Dalam menentukan produk, organisasi harus bisa memastikan bahwa produk yang dilahirkan bisa menjawab kebutuhan/permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat.
3. Strategi yang digunakan dalam menjalankan produk organisasi.
4. Metode/cara yang dilakukan dalam melaksanakan strategi-strategi dalam mewujudkan produk.
5. Pihak luar yang dilibatkan. Pihak luar yang dilibatkan adalah pihak-pihak diluar organisasi dan diluar penerima manfaat. Bisa dari swasta, pemerintah, dan individu yang bisa mendukung kerja-kerja organisasi
6. Bentuk dukungan yang diharapkan dari pihak yang dilibatkan. Jika pihak yang dilibatkan lebih dari satu maka dalam mengidentifikasi dukungan yang diharapkan tentunya berbeda antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Dalam menentukan bentuk dukungan dari pihak yang dilibatkan, organisasi harus mempertimbangkan juga irisan kebutuhan antara organisasi dengan pihak yang dilibatkan. Komitman apa yang bisa diberikan organisasi kepada pihak yang dilibatkan.
7. Strategi untuk mengajak kerjasama pihak yang dilibatkan. Dikarenakan pihak yang dilibatkan adalah dari luar organisasi, maka organisasi harus menyiapkan strategi-strategi dalam mengajak kerjasama dengan pihak luar supaya pihak luar bersedia mendukung kerja-kerja organisasi.

Sebagai penutup hari ketiga, peserta diberi tugas untuk menyusun konsep produk kolaborasi. Peserta diberi keleluasaan dalam menentukan tim kolaborasi.

Hari ke 4

Pada hari keempat, kegiatan lokalatih dimulai dengan presentasi produk kolaborasi. Ada 3 produk kolaborasi yang dihasilkan oleh peserta, antara lain:
1. Kelompok Sikka – Ende yang beranggotakan organisasi Tananua, WTM, dan Sandy Florata dengan produk kolaborasi “Masyarakat Berdaya Dalam Pengelolaan Hutan Desa Egon Gahar”.
2. Kelompok Holamba (Hokeng – Larantuka – Lembata) yang beranggotakan organisasi YPPS, Barakat dan Ayutani, dengan produk kolaborasi “PERMESA LAMAHOLOT” (Pemberdayaan Orang Muda – Selamatkan Generasi Lamaholot).
3. Kelompok Komodo yang beranggotakan organisasi KSP, Tunas Jaya, Yakines dan JPIC, dengan produk kolaborasi “KAMPUNG KOMODO ORGANIK NANGABERE”.

Produk Kolaborasi yang disusun masih dalam bentuk konsep sederhana yang harapannya akan bisa dikembangkan bersama oleh tim dan bisa menjadi tindak lanjut yang akan dilahirkan oleh masing-masing tim setelah mengikuti lokalatih mobilisasi sumber daya. Konsep produk kolaborasi terlampir.

Sebelum istirahat siang, peserta diajak diskusi tentang “Merubah Paradigma dan Mengelola Energi”. Materi ini merupakan refleksi dari materi yang sudah disampaikan selama 3 hari. Sebelum diarahkan ke perubahan paradigma, peserta diajak untuk melihat tantangan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil di Indonesia antara lain dengan adanya donor yang berubah negara sasaran pendanaan, pola penyaluran pendanaan yang berbeda tidak lagi langsung kepada organisasi pelaksana, transformasi Indonesia menjadi negara “Middle Income Country”, banyaknya organisasi masyarakat sipil baru yang lahir, perubahan pandangan masyarakat melihat organisasi masyarakat sipil, dan beberapa tantangan lainnya.

Merubah paradigma yang dimaksud adalah merubah pemikiran tentang donor sebagai pemberi dana untuk bisa diajak kerjasama sesuai dengan visi misi organisasi, bukan sebagai pembeli jasa organisasi yang kemudian membuat organisasi tidak memiliki posisi tawar. Untuk menjadi organisasi yang memiliki posisi tawar, organisasi harus melakukan pola yang berbeda dari yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu: 1) Organisasi tidak hanya fokus kepada pelaksanaan program, tetapi harus fokus dalam melakukan penguatan kapasitas organisasi dan inovasi baru, 2) Transparansi dan akuntabilitas, 3) Komunikasi publik dan publikasi organisasi, 4) Pengelolaan data, informasi dan pengetahuan, dan memaksimalkan TIK sebagai dasar mengembangkan tawaran investasi baru.

Lokalatih hari keempat diakhiri dengan post tes dan penyampaian apresiasi dan masukan dalam pelaksanaan lokalatih oleh peserta.

Ambon – Maluku, 16 – 19 April 2018 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Ambon – Maluku pada tanggal 16 s/d 19 April 2018 merupakan pelaksanaan lokalatih yang ketiga dari 4 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Yayasan Penabulu dan diselenggarakan atas dukungan CEPF.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Ambon terdiri dari 8 orang dari 8 organisasi mitra CEPF PFA 5 dan 6,, antara lain:
1. Na’am Seknun, Assisten Coordinator Program YPPM Maluku
2. Mona Sauhaly, Manager PRS Konservasi Kakatua Indonesia (KKI)
3. Ronald Kondo Lembang, Ketua Program Yayasan Perguruan Kristen Halmahera(UNIERA)
4. Muhammad Risal Akamudin Sarian, Kepala Biro Organisasi dan Keanggotaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Maluku Utara
5. Piet Wairissal, Pimpinan Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM)
6. Rony Julius Siwabessy, Koordinator Program BAILEO Maluku
7. Jainal Irianto, Staf Yayasan SEMANK-MU
8. Elson Haumahu , Direktur YASTRA

Dalam pelaksanaan lokalatih di Ambon mayoritas peserta adalah pimpinan/pengambil kebijakan organisasi, 3 organisasi dihadiri level staf.

Fasilitator dari Yayasan Penabulu yang terlibat dalam Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Ambon, antara lain:
1. Khairi Syah Fitria
2. Ratna Dwi Puspitasari

2. Catatan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Tahapan dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Ambon

Hari ke 1

Pada hari pertama, kegiatan lokalatih dimulai dengan perkenalan. Perkenalan dilakukan dengan cara masing-masing peserta untuk menggambar di kertas tentang organisasi yaitu nama, fokus isu, area intervensi dan area kerja organisasi. Hasil gambar di presentasikan oleh masing-masing peserta sekaligus memperkenalkan nama dan posisi peserta di organisasi. Setelah perkenalan dilakukan, fasilitator memaparkan tentang agenda untuk empat hari kedepan.

Dimulai dengan materi pertama yaitu tentang “Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya?”. Mengawali materi pertama, masing-masing peserta diajak untuk menceritakan alasan mengapa organisasinya melakukan mobilisasi sumber daya. Beragam jawaban yang disampaikan oleh masing-masing peserta, mayoritas jawaban adalah menghilangkan ketergantngan organisasi kepada lembaga donor. Akan tetapi pada intinya adalah mobilisasi sumberdaya dilakukan untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Setelah melakukan penggalian peserta mengapa OMS melakukan mobilisasi sumber daya, peserta diajak untuk mengingat kembali tentang visi dan misi organisasi, mengingat kembali apa mimpi organisasi, apakah kerja-kerja yang dilakukan organisasi sesuai dengan tujuan organisasi. Diskusi terkait visi dan misi organisasi bersama peserta ini mendorong peserta untuk kembali lagi kepada alasan mengapa organisasi berdiri. Kemudian mengajak peserta untuk melihat apakah misi yang dilakukan untuk mencapai visi sudah sesuai. Diskusi ini sebagai bentuk refleksi atas kerja-kerja di masing-masing organisasinya.

Membahas tentang misi organisasi, peserta diarahkan pada sebuah pertanyaan tentang sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan misi organisasi. Peserta diajak untuk mengidentifikasi sumber daya apa saja yang dibutuhkan dan sumber daya apa yang sudah dimiliki oleh masing-masing organisasi. Peserta per organisasi melakukan simulasi menggunakan kertas plano dengan mengidentifikasi:
a. Sumber daya apa yang dibutuhkan organisasi untuk mendukung misi dan memberikan peringkat dari masing-masing sumber daya yang dibutuhkan mana yang dianggap paling penting
b. Sumber daya yang dimiliki organisasi saat ini dan membandingkan dengan sumber daya yang dibutuhkan, jika yang dibuthkan sudah dimiliki maka berapa presentase yang telah dimiliki sehingga bisa diketahui berapa presentase yang dibutuhkan oleh organisasi

Dalam tahapan ini, selain mengenali sumber daya yang dibutuhkan, organisasi juga bisa melihat saat ini apa saja sumber daya yang sudah dimiliki oleh organisasi. Dengan begitu, organisasi akan mengetahui sumber daya apa yang masih harus dipenuhi untuk kelanjutan kerja-kerja organisasi.
Di Ambon, dalam identifikasi sumber daya organisasi, peserta masih berpikir bahwa sumber daya adalah dana, manusia, sarana dan prasana dan jaringan. Organisasi belum melihat sumber daya lain yang dimiliki oleh organisasi misalnya adanya dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh organisasi, dokumen pendukung jalannya organisasi, ilmu pengetahuan berupa materi dan modul juga belum dianggap sebagai sumber daya organisasi.

Setelah masing-masing organisasi memahami tentang kebutuhan sumber daya bagi organisasi, dan melihat sumber daya organisasi yang dimiliki, peserta diajak untuk melihat lagi ke dalam organisasi dan mengingat dalam kurun waktu 3 sampai dengan 5 tahun terakhir apa yang terjadi dengan organisasi. Kemudian melihat keluar dan membayangkan kira-kira trend apa yang akan terjadi dalam 5 tahun kedepan. Trend ini bisa jadi mempengaruhi dengan kondisi yang terjadi di organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir. Kemudian, peserta diajak untuk membayangkan, akan menjadi organisasi yang seperti apa dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Ada yang menarik dari diskusi terkait dengan apa yang terjadi di organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir. LPPM yang merupakan organisasi yang sudah berdiri lebih dari 30 tahun yang dulunya bergerak di isu kesehatan mulai bergeser ke isu konservasi. Hal ini karena pendanaan untuk isu kesehatan sudah mulai berkurang baik dari lembaga donor maupun dari pemerintah.

Diskusi tentang “Apa yang terjadi pada organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir”, “Trend yang akan muncul dalam 3 sampai 5 tahun kedepan”, dan “Apa yang terjadi dengan organisasi 5 tahun kedepan” mengajak peserta untuk melihat tantangan dan peluang yang harus dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Dari tahapan inilah peserta kemudian diajak untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam melakukan mobilisasi sumber daya organisasi menggunakan metode SWOT. Metode ini dilakukan untuk organisasi bisa mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi terkait sumber daya dan mengidentifikasi peluang apa yang bisa diambil oleh organisasi dan tantangan apa yang harus dihadapi oleh organisasi dalam pemenuhan sumber daya untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Hasil identifikasi SWOT ini menjadi sesi penutup hari pertama

Hari ke 2

Pada hari kedua, kegiatan lokalatih dimulai dengan mengingat kembali materi yang telah didiskusikan di hari pertama selama 30 menit. Lalu dilanjutkan dengan materi “Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil”. Penyampaian materi ini lebih kepada paparan tentang sumber daya organisasi dan mobilisasi sumber daya organisasi. Peserta juga diajak untuk memahami peran mobilisasi sumber daya bahwa betapa pentingnya melakukan mobilisasi sumber daya untuk keberlanjutan kerja-kerja organisasi. Peserta diharapkan untuk bisa menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan karakteristik dan basis kerja masing-masing organisasi. Secara umum, ada 3 basis kerja organisasi yaitu organisasi berbasis konstituen, organisasi berbasis kompetensi dan organisasi berbasis advokasi. Berdasarkan karateristik dan basis kerja organisasi akan mempengaruhi bentuk mobilisasi sumber daya yang bisa dilakukan oleh organisasi. Pada sesi ini, masing-masing organisasi diajak untuk menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

Sebelum istirahat siang, peserta diajak untuk melihat kedalam organisasi masing-masing apakah organisasinya telah cukup siap untuk melakukan mobilisasi sumber daya dengan materi “Menyiapkan Organisasi Sebagai Penggalang Sumber Daya”. Materi ini merupakan kesimpulan dari diskusi “Mengapa organisasi melakukan mobilisasi sumber daya” dan “Konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya”. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya, 3) Organisasi yang dalam melakukan mobilisasi sumber daya mampu menyeimbangkan antara tujuan dan hasil yang diharapkan antara individu, organisasi dan penerima manfaat, 4) Organisasi masyarakat sipil sebagai pengelola dana publik yang mampu untuk melakukan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Setelah istirahat siang, peserta diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan relawan dengan materi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”. Sebagian besar organisasi peserta sudah melakukan perekrutan relawan sehingga dalam penyampaian materi di sesi ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana organisasi melakukan pengelolaan relawan. Sebagian besar organisasi sudah memiliki relawan akan tetapi dalam pengelolaan yang belum sistematis. Pengelolaan relawan tidak hanya dilakukan pada pelibatan kegiatan atau sesuai idengan kebutuhan proyek saja melainkan juga dalam pengembangan organisasi. Diskusi bersama peserta kemudian diarahkan ke cara bagaimana mengelola relawan secara sistematis, antara lain:
1) Planning, adalah sebuah perencanaan untuk mengidentifikasi sejauh mana organisasi membutuhkan relawan, relawan yang seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi, apa penugasan-penugasan yang akan diberikan kepada relawan, berapa alokasi pendanaan yang dibutuhkan dalam melakukan pengelolaan relawan dan darimana sumber pendanaan yang digunakan, dan bagaimana mengantisipasi permasalahan yang muncul dengan adanya relawan di organisasi.
2) Rekruitmen lebih kepada bagaimana metode organisasi melakkan rekriutmen relawan.
3) Orientasi dan training, bagaimana organisasi membuat relawan untuk bisa mengenali dan memiliki organisasi, dan penguatan kapasitas apa saja yang harus diberikan kepada relawan untuk bisa menyelesaikan penugasan dalam membantu kerja-kerja organisasi.
4) Monitoring dan evaluasi, bagaimana organisasi melakukan monitoring dan evaluasi atas penugasan-penugasan yang diberikan kepada relawan, yang hasil dari monitoring dan evaluasi akan dijadikan dasar untuk keputusan-keputusan yang diambil terkait keberlanjutan relawan, misalnya kebutuhan untuk lebih meningkatkan kapasitas atau memberikan penugasan yanglebih tepat.
5) Pengakuan/recognition, dimana pengakuan dan penghargaan kepada relawan harus diberikan kepada organisasi, tidak selalu dalam bentuk barang akan tetapi dalam bentuk apapun yang bisa memberikan semangat bahwa relawan sangat membantu kerja-kerja organisasi.

Setelah sesi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”, materi dilanjutkan dengan “Maksimalisasi Pemanfaatan TIK dalam Mobilisasi Sumber Daya Organisasi”. Dalam sesi ini peserta diajak untuk melihat sejauh apa TIK bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja-kerja mobilisasi sumber daya. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dalam pemanfaatannya. Pada sesi ini, peserta melakukan simulasi terkait pengelolaan TIK di organisasi dan pengembangan kedepannya seperti apa. Dari hasil presentasi peserta, masih banyak organisasi di Ambon yang belum memiliki website, sebagian besar hanya memiliki sosial media akan tetapi juga tidak digunakan secara aktif. Hal ini dikarenakan belum tersedianya staf khusus pengelola TIK dan tidak ada dana khusus untuk membayar staf. Beberapa organisasi yang sudah memiliki website juga belum dilakukan update kegiatan organisasi secara rutin.

Menutup hari kedua, peserta diajak menulis tentang perasaan yang dialami baik yang menyenangkan maupun yang menggembirakan setelah mengikuti proses lokalatih selama 2 hari.

Hari ke 3

Pada hari ketiga, diawali dengan materi “Membangun Strategi Pelibatan Para Pihak”. Para pihak yang dimaksud disini adalah pihak-pihak diluar organisasi yang mendukung kerja-kerja organisasi. Dalam sesi ini, peserta melakukan simulasi untuk mengidentifikasi siapa pihak-pihak luar yang bisa dilibatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan template berisi empat kotak yaitu; Kotak 1 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis dan dekat, kotak 2 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis tetapi jauh, kotak 3 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan kotak 4 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis dan jauh.

Setelah melakukan identifikasi pihak menjadi empat tingkat strategis, peserta diajak untuk mengidentifikasi irisan kebutuhan dari masing-masing pihak yang dilibatkan dan dukungan apa yang diharapkan oleh organisasi dari pihak-pihak yang dilibatkan. Berdasarkan dari irisan kebutuhan antara pihak dan bentuk dukungan yang diharapkan oleh organisasi, selanjutnya dilakukan identifikasi strategi pendekatan yang harus dilakukan untuk menjalin kerjasama dengan pihak tersebut. Tentunya kepada masing-masing pihak mempunyai strategi yang berbeda.

Poin penting yang ditekankan kepada peserta adalah, ketika organisasi akan melakukan kerjasama dengan pihak luar maka organisasi harus mempunyai sebuah “produk”. Produk organisasi bukanlah program atau kegiatan, produk juga tidak selalu berupa barang, bisa berupa unit layanan, menu layanan, tools/perangkat, dan juga kerja kolaboratif. Produk bisa lahir dari sebuah program/proyek yang telah dijalankan, ataupun sebaliknya bisa melahirkan program/proyek. Produk organisasi inilah yang akan ditawarkan kepada pihak luar yang akan dilibatkan sebagai dasar kerjasama.

Dalam memahami produk organisasi, metode yang digunakan adalah menggunakan kanvas. Metode kanvas akan memandu peserta untuk menyusun sebuah konsep sederhana dalam melahirkan produk. 7 poin penting dalam metode kanvas antara lain:
1. Menentukan siapa penerima manfaatnya. Dalam menentukan penerima manfaat, organisasi harus mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat. Dalam mengidentifikasi permasalahan, organisasi harus bisa melihat lebih jauh lagi apa yang melatar belakangi permasalahan tersebut. Dengan begitu, organisasi bisa menentukan apa yang bisa diberikan kepada penerima manfaat.
2. Menentukan produk. Dalam menentukan produk, organisasi harus bisa memastikan bahwa produk yang dilahirkan bisa menjawab kebutuhan/permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat.
3. Strategi yang digunakan dalam menjalankan produk organisasi.
4. Metode/cara yang dilakukan dalam melaksanakan strategi-strategi dalam mewujudkan produk.
5. Pihak luar yang dilibatkan. Pihak luar yang dilibatkan adalah pihak-pihak diluar organisasi dan diluar penerima manfaat. Bisa dari swasta, pemerintah, dan individu yang bisa mendukung kerja-kerja organisasi
6. Bentuk dukungan yang diharapkan dari pihak yang dilibatkan. Jika pihak yang dilibatkan lebih dari satu maka dalam mengidentifikasi dukungan yang diharapkan tentunya berbeda antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Dalam menentukan bentuk dukungan dari pihak yang dilibatkan, organisasi harus mempertimbangkan juga irisan kebutuhan antara organisasi dengan pihak yang dilibatkan. Komitman apa yang bisa diberikan organisasi kepada pihak yang dilibatkan.
7. Strategi untuk mengajak kerjasama pihak yang dilibatkan. Dikarenakan pihak yang dilibatkan adalah dari luar organisasi, maka organisasi harus menyiapkan strategi-strategi dalam mengajak kerjasama dengan pihak luar supaya pihak luar bersedia mendukung kerja-kerja organisasi.

Sebelum peserta melakukan simulasi menyusun produk organisasi, peserta diberikan tips bagaimana strategi untuk bekerja sama dengan pihak swasta dengan materi “Bagaimana Cara Melibatkan Private Sektor/Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi”.

Menutup sesi hari ketiga, peserta melakukan simulasi menyusun konsep produk menggunakan metode kanvas dengan berkolaborasi. Ada tiga konsep yang kemudian di presentasikan oleh masing-masing kelompok organisasi antara lain:
a. Kelompok KKI, Uniera dan Aman Malut, dengan produk kolaborasi “Desa Peduli Mangrove”
b. Kelompok YPPM, YASTRA dan Semank, dengan produk kolaborasi “Pengembangan Ekowisata Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat”
c. Kelompok Baileo dan LPPM dengan produk kolaborasi “Forum Perencanaan Pembangunan Desa”

Produk Kolaborasi yang disusun masih dalam bentuk konsep sederhana yang harapannya akan bisa dikembangkan oleh organisasi baik secara kolaborasi atau individual yang bisa menjadi tindak lanjut setelah mengikuti lokalatih mobilisasi sumber daya.

Hari ke 4

Pada hari keempat, kegiatan lokalatih dimulai dengan post tes. Setelah post tes, dialnjutkan dengan diskusi tentang “Merubah Paradigma dan Mengelola Energi”. Diskusi di hari keempat ini adalah refleksi dari materi yang sudah disampaikan selama 3 hari. Sebelum diarahkan ke perubahan paradigma, peserta diajak untuk melihat tantangan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil di Indonesia antara lain dengan adanya donor yang berubah negara sasaran pendanaan, pola penyaluran pendanaan yang berbeda tidak lagi langsung kepada organisasi pelaksana, transformasi Indonesia menjadi negara “Middle Income Country”, banyaknya organisasi masyarakat sipil baru yang lahir, perubahan pandangan masyarakat melihat organisasi masyarakat sipil, dan beberapa tantangan lainnya.

Merubah paradigma yang dimaksud adalah merubah pemikiran tentang donor sebagai pemberi dana untuk bisa diajak kerjasama sesuai dengan visi misi organisasi, bukan sebagai pembeli jasa organisasi yang kemudian membuat organisasi tidak memiliki posisi tawar. Untuk menjadi organisasi yang memiliki posisi tawar, organisasi harus melakukan pola yang berbeda dari yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu: 1) Organisasi tidak hanya fokus kepada pelaksanaan program, tetapi harus fokus dalam melakukan penguatan kapasitas organisasi dan inovasi baru, 2) Transparansi dan akuntabilitas, 3) Komunikasi publik dan publikasi organisasi, 4) Pengelolaan data, informasi dan pengetahuan, dan memaksimalkan TIK sebagai dasar mengembangkan tawaran investasi baru.

Setelah istirahat siang, semua peserta menyusun Rencana Aksi Mobilisasi Sumber Daya Organisasi.

Lokalatih hari keempat diakhiri dengan peserta menyampaikan masukan dan kesan selama 4 hari berproses.

Makassar – Sulawesi Selatan, 2 – 5 April 2018 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Makassar pada tanggal 2 s/d 5 April 2018 merupakan pelaksanaan lokalatih yang kedua dari 4 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Yayasan Penabulu dan diselenggarakan atas dukungan CEPF.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Palu terdiri dari 9 orang dari 9 organisasi mitra CEPF PFA 1 dan 3, antara lain:
1. Ni Made Sri Handayani, Support Koordinator Yayasan Idep
2. Topan Cahyono, Program manager Unit Perkumpulan YAPEKA
3. Marsel A. I. Korompis, Direktur Rumah Ganeca Sulut
4. Karno Batiran, Direktur Eksekutif Perkumpulan Payo – Payo
5. Sella Runtulalo, Ketua Umum Manengkel Solidaritas
6. Dimas Panji Pangestu, Kepala Divisi Program Balang Institute
7. Aniswati Syahrir, Program Officer/Manajer Program Lembaga JURnal Celebes
8. Erwin Setiawan, Manajer Keuangan FKKM
9. Samsared B. Barahma, Pengurus Perkumpulan Sampiri

Fasilitator dari Yayasan Penabulu yang terlibat dalam Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Makassar, antara lain:
1. Khairi Syah Fitria
2. Ratna Dwi Puspitasari
3. Suhud Ridwan

2. Catatan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Hari ke 1

Pada hari pertama, kegiatan lokalatih dimulai dengan perkenalan. Perkenalan dilakukan dengan cara masing-masing peserta untuk menggambar di kertas tentang organisasi yaitu nama, fokus isu, area intervensi dan area kerja organisasi. Hasil gambar di presentasikan oleh masing-masing peserta sekaligus memperkenalkan nama dan posisi peserta dii organisasi. Setelah perkenalan dilakukan, fasilitator memaparkan tentang agenda untuk empat hari kedepan.

Dimulai dengan materi pertama yaitu tentang “Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya?”. Mengawali materi pertama, masing-masing peserta diajak untuk menceritakan alasan mengapa organisasinya melakukan mobilisasi sumber daya. Beragam jawaban yang disampaikan oleh masing-masing peserta, mayoritas jawaban adalah menghilangkan ketergantngan organisasi kepada lembaga donor. Akan tetapi pada intinya adalah mobilisasi sumberdaya dilakukan untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Setelah melakukan penggalian peserta mengapa OMS melakukan mobilisasi sumber daya, peserta diajak untuk mengingat kembali tentang visi dan misi organisasi, mengingat kembali apa mimpi organisasi, apakah kerja-kerja yang dilakukan organisasi sesuai dengan tujuan organisasi. Diskusi terkait visi dan misi organisasi bersama peserta ini mendorong peserta untuk kembali lagi kepada alasan mengapa organisasi berdiri. Kemudian mengajak peserta untuk melihat apakah misi yang dilakukan untuk mencapai visi sudah sesuai. Diskusi ini sebagai bentuk refleksi atas kerja-kerja di masing-masing organisasinya.

Membahas tentang misi organisasi, peserta diarahkan pada sebuah pertanyaan tentang sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan misi organisasi. Peserta diajak untuk mengidentifikasi sumber daya apa saja yang dibutuhkan dan sumber daya apa yang sudah dimiliki oleh masing-masing organisasi. Peserta per organisasi melakukan simulasi menggunakan kertas plano dengan mengidentifikasi:
a. Sumber daya apa yang dibutuhkan organisasi untuk mendukung misi dan memberikan peringkat dari masing-masing sumber daya yang dibutuhkan mana yang dianggap paling penting
b. Sumber daya yang dimiliki organisasi saat ini dan membandingkan dengan sumber daya yang dibutuhkan, jika yang dibuthkan sudah dimiliki maka berapa presentase yang telah dimiliki sehingga bisa diketahui berapa presentase yang dibutuhkan oleh organisasi

Dalam tahapan ini, selain mengenali sumber daya yang dibutuhkan, organisasi juga bisa melihat saat ini apa saja sumber daya yang sudah dimiliki oleh organisasi. Dengan begitu, organisasi akan mengetahui sumber daya apa yang masih harus dipenuhi untuk kelanjutan kerja-kerja organisasi.

Setelah masing-masing organisasi memahami tentang kebutuhan sumber daya bagi organisasi, dan melihat sumber daya organisasi yang dimiliki, peserta diajak untuk melihat lagi ke dalam organisasi dan mengingat dalam kurun waktu 3 sampai dengan 5 tahun terakhir apa yang terjadi dengan organisasi. Kemudian melihat keluar dan membayangkan kira-kira trend apa yang akan terjadi dalam 5 tahun kedepan. Trend ini bisa jadi mempengaruhi dengan kondisi yang terjadi di organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir. Kemudian, peserta diajak untuk membayangkan, akan menjadi organisasi yang seperti apa dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Diskusi tentang “Apa yang terjadi pada organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir”, “Trend yang akan muncul dalam 3 sampai 5 tahun kedepan”, dan “Apa yang terjadi dengan organisasi 5 tahun kedepan” mengajak peserta untuk melihat tantangan dan peluang yang harus dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Dari tahapan inilah peserta kemudian diajak untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam melakukan mobilisasi sumber daya organisasi menggunakan metode SWOT. Metode ini dilakukan untuk organisasi bisa mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi terkait sumber daya dan mengidentifikasi peluang apa yang bisa diambil oleh organisasi dan tantangan apa yang harus dihadapi oleh organisasi dalam pemenuhan sumber daya untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Lokalatih hari kesatu diakhiri dengan peserta menyampaikan harapan untuk proses lokalatih selama empat hari kedepan.

Hari ke 2

Pada hari kedua, kegiatan lokalatih dimulai dengan mengingat kembali materi yang telah didiskusikan di hari pertama selama 30 menit. Lalu dilanjutkan dengan materi “Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil”. Penyampaian materi ini lebih kepada paparan tentang sumber daya organisasi dan mobilisasi sumber daya organisasi. Peserta juga diajak untuk memahami peran mobilisasi sumber daya bahwa betapa pentingnya melakukan mobilisasi sumber daya untuk keberlanjutan kerja-kerja organisasi. Peserta diharapkan untuk bisa menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan karakteristik dan basis kerja masing-masing organisasi. Secara umum, ada 3 basis kerja organisasi yaitu organisasi berbasis konstituen, organisasi berbasis kompetensi dan organisasi berbasis advokasi. Berdasarkan karateristik dan basis kerja organisasi akan mempengaruhi bentuk mobilisasi sumber daya yang bisa dilakukan oleh organisasi. Pada sesi ini, masing-masing organisasi diajak untuk menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

Sebelum istirahat siang, peserta diajak untuk melihat kedalam organisasi masing-masing apakah organisasinya telah cukup siap untuk melakukan mobilisasi sumber daya dengan materi “Menyiapkan Organisasi Sebagai Penggalang Sumber Daya”. Materi ini merupakan kesimpulan dari diskusi “Mengapa organisasi melakukan mobilisasi sumber daya” dan “Konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya”. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya, 3) Organisasi yang dalam melakukan mobilisasi sumber daya mampu menyeimbangkan antara tujuan dan hasil yang diharapkan antara individu, organisasi dan penerima manfaat, 4) Organisasi masyarakat sipil sebagai pengelola dana publik yang mampu untuk melakukan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Setelah istirahat siang, peserta diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan relawan dengan materi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”. Sebagian besar organisasi peserta sudah melakukan perekrutan relawan sehingga dalam penyampaian materi di sesi ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana organisasi melakukan pengelolaan relawan. Secara umum pengelolaan relawan yang dilakukan oleh beberapa organisasi peserta lokalatih belum sistematis. Pengelolaan relawan lebih banyak dilakukan pada pelibatan kegiatan atau sesuai idengan kebutuhan proyek. Artinya, organisasi belum menempatkan relawan sebagai peluang regenerasi dan sumberdaya yang dapat mendukung visi dan misi organisasi kedepan. Diskusi bersama peserta kemudian diarahkan ke cara bagaimana mengelola relawan secara sistematis, antara lain:
1) Planning, adalah sebuah perencanaan untuk mengidentifikasi sejauh mana organisasi membutuhkan relawan, relawan yang seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi, apa penugasan-penugasan yang akan diberikan kepada relawan, berapa alokasi pendanaan yang dibutuhkan dalam melakukan pengelolaan relawan dan darimana sumber pendanaan yang digunakan, dan bagaimana mengantisipasi permasalahan yang muncul dengan adanya relawan di organisasi.
2) Rekruitmen lebih kepada bagaimana metode organisasi melakkan rekriutmen relawan.
3) Orientasi dan training, bagaimana organisasi membuat relawan untuk bisa mengenali dan memiliki organisasi, dan penguatan kapasitas apa saja yang harus diberikan kepada relawan untuk bisa menyelesaikan penugasan dalam membantu kerja-kerja organisasi.
4) Monitoring dan evaluasi, bagaimana organisasi melakukan monitoring dan evaluasi atas penugasan-penugasan yang diberikan kepada relawan, yang hasil dari monitoring dan evaluasi akan dijadikan dasar untuk keputusan-keputusan yang diambil terkait keberlanjutan relawan, misalnya kebutuhan untuk lebih meningkatkan kapasitas atau memberikan penugasan yanglebih tepat.
5) Pengakuan/recognition, dimana pengakuan dan penghargaan kepada relawan harus diberikan kepada organisasi, tidak selalu dalam bentuk barang akan tetapi dalam bentuk apapun yang bisa memberikan semangat bahwa relawan sangat membantu kerja-kerja organisasi.
Penekanan dalam diskusi terkait dengan pengelolaan relawan di organisasi adalah relawan sebaagai salah satu aset organisasi yang seharusnya dikelola dengan sebaik-baiknya.

Setelah sesi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”, materi dilanjutkan dengan “Maksimalisasi Pemanfaatan TIK dalam Mobilisasi Sumber Daya Organisasi”. Dalam sesi ini peserta diajak untuk melihat sejauh apa TIK bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja-kerja mobilisasi sumber daya. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dalam pemanfaatannya. Fasilitator mengajak untuk melihat website masing-masing organisasi, apakah informasi yang disampaikan di website sudah cukup informatif untuk mengenalkan siapa organisasinya. Belum banyak organisasi peserta lokalatih di Palu yang memiliki website, kebanyakan organisasi memanfaatkan facebook dan blog untuk mendokumentasikan hasil-hasil kerja organisasi meskipun secara pemanfaatan juga belum maksimal.
Diskusi tentang pemanfaatan TIK sebagai penutup lokalatih hari kedua.

Hari ke 3

Pada hari ketiga, diawali dengan materi “Membangun Strategi Pelibatan Para Pihak”. Para pihak yang dimaksud disini adalah pihak-pihak diluar organisasi yang mendukung kerja-kerja organisasi. Dalam sesi ini, peserta melakukan simulasi untuk mengidentifikasi siapa pihak-pihak luar yang bisa dilibatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan template berisi empat kotak yaitu; Kotak 1 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis dan dekat, kotak 2 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis tetapi jauh, kotak 3 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan kotak 4 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis dan jauh.

Setelah melakukan identifikasi pihak menjadi empat tingkat strategis, peserta diajak untuk mengidentifikasi irisan kebutuhan dari masing-masing pihak yang dilibatkan dan dukungan apa yang diharapkan oleh organisasi dari pihak-pihak yang dilibatkan. Berdasarkan dari irisan kebutuhan antara pihak dan bentuk dukungan yang diharapkan oleh organisasi, selanjutnya dilakukan identifikasi strategi pendekatan yang harus dilakukan untuk menjalin kerjasama dengan pihak tersebut. Tentunya kepada masing-masing pihak mempunyai strategi yang berbeda.

Poin penting yang ditekankan kepada peserta adalah, ketika organisasi akan melakukan kerjasama dengan pihak luar maka organisasi harus mempunyai sebuah “produk”. Produk organisasi bukanlah program atau kegiatan, produk juga tidak selalu berupa barang, bisa berupa unit layanan, menu layanan, tools/perangkat, dan juga kerja kolaboratif. Produk bisa lahir dari sebuah program/proyek yang telah dijalankan, ataupun sebaliknya bisa melahirkan program/proyek. Produk organisasi inilah yang akan ditawarkan kepada pihak luar yang akan dilibatkan sebagai dasar kerjasama.

Dalam memahami produk organisasi, metode yang digunakan adalah menggunakan kanvas. Metode kanvas akan memandu peserta untuk menyusun sebuah konsep sederhana dalam melahirkan produk. 7 poin penting dalam metode kanvas antara lain:
1. Menentukan siapa penerima manfaatnya. Dalam menentukan penerima manfaat, organisasi harus mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat. Dalam mengidentifikasi permasalahan, organisasi harus bisa melihat lebih jauh lagi apa yang melatar belakangi permasalahan tersebut. Dengan begitu, organisasi bisa menentukan apa yang bisa diberikan kepada penerima manfaat.
2. Menentukan produk. Dalam menentukan produk, organisasi harus bisa memastikan bahwa produk yang dilahirkan bisa menjawab kebutuhan/permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat.
3. Strategi yang digunakan dalam menjalankan produk organisasi.
4. Metode/cara yang dilakukan dalam melaksanakan strategi-strategi dalam mewujudkan produk.
5. Pihak luar yang dilibatkan. Pihak luar yang dilibatkan adalah pihak-pihak diluar organisasi dan diluar penerima manfaat. Bisa dari swasta, pemerintah, dan individu yang bisa mendukung kerja-kerja organisasi
6. Bentuk dukungan yang diharapkan dari pihak yang dilibatkan. Jika pihak yang dilibatkan lebih dari satu maka dalam mengidentifikasi dukungan yang diharapkan tentunya berbeda antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Dalam menentukan bentuk dukungan dari pihak yang dilibatkan, organisasi harus mempertimbangkan juga irisan kebutuhan antara organisasi dengan pihak yang dilibatkan. Komitman apa yang bisa diberikan organisasi kepada pihak yang dilibatkan.
7. Strategi untuk mengajak kerjasama pihak yang dilibatkan. Dikarenakan pihak yang dilibatkan adalah dari luar organisasi, maka organisasi harus menyiapkan strategi-strategi dalam mengajak kerjasama dengan pihak luar supaya pihak luar bersedia mendukung kerja-kerja organisasi.

Sebelum peserta melakukan simulasi menyusun produk organisasi, peserta diberikan tips bagaimana strategi untuk bekerja sama dengan pihak swasta dengan materi “Bagaimana Cara Melibatkan Private Sektor/Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi”.

Menutup sesi hari ketiga, peserta melakukan simulasi menyusun konsep produk menggunakan metode kanvas dengan berkolaborasi. Ada tiga konsep yang kemudian di presentasikan oleh masing-masing kelompok organisasi antara lain:
a. Kelompok FKKM, IDEP dan Balang Istitute dengan prduk kolaborasi Kelompok Pengelola Ekopisata
b. Kelompok Jurnal celebes dan Payo-payo dengan produk kolaborasi Youth Preneur House
c. Kelompok Perkumpulan Ganeca, YAPEKA, Manengkel, dan Sampiri dengan produk kolaborasi Minahasa Cinta Penyu

Hari ke 4

Pada hari keempat, kegiatan lokalatih dimulai dengan post tes. Setelah post tes, peserta diajak diskusi tentang “Merubah Paradigma dan Mengelola Energi”. Diskusi di hari keempat ini adalah refleksi dari materi yang sudah disampaikan selama 3 hari. Sebelum diarahkan ke perubahan paradigma, peserta diajak untuk melihat tantangan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil di Indonesia antara lain dengan adanya donor yang berubah negara sasaran pendanaan, pola penyaluran pendanaan yang berbeda tidak lagi langsung kepada organisasi pelaksana, transformasi Indonesia menjadi negara “Middle Income Country”, banyaknya organisasi masyarakat sipil baru yang lahir, perubahan pandangan masyarakat melihat organisasi masyarakat sipil, dan beberapa tantangan lainnya.

Merubah paradigma yang dimaksud adalah merubah pemikiran tentang donor sebagai pemberi dana untuk bisa diajak kerjasama sesuai dengan visi misi organisasi, bukan sebagai pembeli jasa organisasi yang kemudian membuat organisasi tidak memiliki posisi tawar. Untuk menjadi organisasi yang memiliki posisi tawar, organisasi harus melakukan pola yang berbeda dari yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu: 1) Organisasi tidak hanya fokus kepada pelaksanaan program, tetapi harus fokus dalam melakukan penguatan kapasitas organisasi dan inovasi baru, 2) Transparansi dan akuntabilitas, 3) Komunikasi publik dan publikasi organisasi, 4) Pengelolaan data, informasi dan pengetahuan, dan memaksimalkan TIK sebagai dasar mengembangkan tawaran investasi baru.

Setelah istirahat siang, semua peserta menyusun Rencana Aksi Mobilisasi Sumber Daya Organisasi. Rencana Aksi masing-masing organisasi bisa dilihat di lampiran 1.

Lokalatih hari keempat diakhiri dengan peserta menyampaikan masukan dan kesan selama 4 hari berproses.

Palu – Sulawesi Tengah, 26 – 29 Maret 2018 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Palu pada tanggal 26 s/d 29 Maret 2018 merupakan pelaksanaan lokalatih yang pertama dari 4 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Yayasan Penabulu dan diselenggarakan atas dukungan CEPF.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Palu terdiri dari 11 orang dari 11 organisasi mitra CEPF PFA 2 dan 4, antara lain:
1. Rais, Koordinator Divisi Pemberdayaan Hukum Dan Hak-Hak Rakyat Wallacea Palopo
2. Mochammad Subarkah, Direktur, ROA (Relawan untuk Orang dan Alam)
3. Andri Arnold, Ketua Divisi Buruh, AJI Gorontalo
4. Theophilus, Wakil Ketua, Imunitas Palu
5. Muhamad Akib, Direktur, SIKAP Institute Palu
6. Jalaluddin, Koord Devisi Advokasi, Yayasan Bumi Sawerigading Palopo
7. Ahmad Bahsoan, Manajer, Perkumpulan JAPESDA
8. Abdil, s.hut, Pendamping Lapangan, Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma
9. Syaiful Taslim, KARSA INSTITUTE
10. Hendro Ari Bowo, Bidang Alternatif, SALANGGAR
11. Fadhil Abdullah P, Deputy Internal, Yayasan Panorama Alam Lestari

Fasilitator dari Yayasan Penabulu yang terlibat dalam Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Palu, antara lain:
1. Khairi Syah Fitria
2. Ratna Dwi Puspitasari
3. Suhud Ridwan

2. Catatan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Hari ke 1

Pada hari pertama, kegiatan lokalatih dimulai dengan perkenalan. Perkenalan dilakukan dengan cara masing-masing peserta untuk menggambar di kertas tentang organisasi yaitu nama, fokus isu, area intervensi dan area kerja organisasi. Hasil gambar di presentasikan oleh masing-masing peserta sekaligus memperkenalkan nama dan posisi peserta dii organisasi. Setelah perkenalan dilakukan, fasilitator memaparkan tentang agenda untuk empat hari kedepan.

Dimulai dengan materi pertama yaitu tentang “Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya?”. Mengawali materi pertama, masing-masing peserta diajak untuk menceritakan alasan mengapa organisasinya melakukan mobilisasi sumber daya. Pada intinya dari jawaban peserta, mengapa organisasi melakukan mobilisasi sumber daya adalah untuk keberlanjutan organisasi mengingat bahwa pendanaan yang diperoleh dari lembaga donor di beberapa organisasi di wilayah Wallacea ini mayoritas tidak lebih dari 500.000.000 per tahunnya.

Setelah melakukan penggalian peserta mengapa OMS melakukan mobilisasi sumber daya, peserta diajak untuk mengingat kembali tentang visi dan misi organisasi. Peserta tidak harus menjawab pertanyaan tentang visi dan misi, melainkan untuk mengingat, apakah kerja-kerja yang dilakukan organisasi sesuai dengan tujuan organisasi. Diskusi terkait visi dan misi organisasi bersama peserta ini mendorong peserta untuk kembali lagi kepada alasan mengapa organisasi berdiri. Kemudian mengajak peserta untuk melihat apakah misi yang dilakukan untuk mencapai visi sudah sesuai. Diskusi ini sebagai bentuk refleksi atas kerja-kerja di masing-masing organisasinya.

Membahas tentang misi organisasi, peserta diarahkan pada sebuah pertanyaan tentang sumber daya apa yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan misi organisasi. Peserta diajak untuk mengidentifikasi sumber daya apa saja yang dibutuhkan dan sumber daya apa yang sudah dimiliki oleh masing-masing organisasi. Dalam tahapan ini, diharapkan selain mengenali sumber daya yang dibutuhkan, organisasi juga bisa melihat saat ini apa saja sumber daya yang sudah dimiliki oleh organisasi. Dengan begitu, organisasi akan mengetahui sumber daya apa yang masih harus dipenuhi untuk kelanjutan kerja-kerja organisasi.

Setelah masing-masing organisasi memahami tentang kebutuhan sumber daya bagi organisasi, dan melihat sumber daya organisasi yang dimiliki, peserta diajak untuk melihat lagi ke dalam organisasi dan mengingat dalam kurun waktu 3 sampai dengan 5 tahun terakhir apa yang terjadi dengan organisasi. Kemudian melihat keluar dan membayangkan kira-kira trend apa yang akan terjadi dalam 5 tahun kedepan. Trend ini bisa jadi mempengaruhi dengan kondisi yang terjadi di organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir. Kemudian, peserta diajak untuk membayangkan, akan menjadi organisasi yang seperti apa dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Diskusi tentang “Apa yang terjadi pada organisasi 3 sampai 5 tahun terakhir”, “Trend yang akan muncul dalam 3 sampai 5 tahun kedepan”, dan “Apa yang terjadi dengan organisasi 5 tahun kedepan” mengajak peserta untuk melihat tantangan dan peluang yang harus dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Dari tahapan inilah peserta kemudian diajak untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam melakukan mobilisasi sumber daya organisasi menggunakan metode SWOT. Metode ini dilakukan untuk organisasi bisa mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi terkait sumber daya dan mengidentifikasi peluang apa yang bisa diambil oleh organisasi dan tantangan apa yang harus dihadapi oleh organisasi dalam pemenuhan sumber daya untuk melanjutkan kerja-kerja organisasi.

Lokalatih hari kesatu diakhiri dengan peserta menyampaikan harapan untuk proses lokalatih selama empat hari kedepan.

Hari ke 2

Pada hari kedua, kegiatan lokalatih dimulai dengan mengingat kembali materi yang telah didiskusikan di hari pertama selama 30 menit. Lalu dilanjutkan dengan materi “Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil”. Penyampaian materi ini lebih kepada paparan tentang sumber daya organisasi dan mobilisasi sumber daya organisasi. Peserta juga diajak untuk memahami peran mobilisasi sumber daya bahwa betapa pentingnya melakukan mobilisasi sumber daya untuk keberlanjutan kerja-kerja organisasi. Peserta diharapkan untuk bisa menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan karakteristik dan basis kerja masing-masing organisasi. Secara umum, ada 3 basis kerja organisasi yaitu organisasi berbasis konstituen, organisasi berbasis kompetensi dan organisasi berbasis advokasi. Berdasarkan karateristik dan basis kerja organisasi akan mempengaruhi bentuk mobilisasi sumber daya yang bisa dilakukan oleh organisasi. Pada sesi ini, masing-masing organisasi diajak untuk menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

Sebelum istirahat siang, peserta diajak untuk melihat kedalam organisasi masing-masing apakah organisasinya telah cukup siap untuk melakukan mobilisasi sumber daya dengan materi “Menyiapkan Organisasi Sebagai Penggalang Sumber Daya”. Materi ini merupakan kesimpulan dari diskusi “Mengapa organisasi melakukan mobilisasi sumber daya” dan “Konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya”. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya, 3) Organisasi yang dalam melakukan mobilisasi sumber daya mampu menyeimbangkan antara tujuan dan hasil yang diharapkan antara individu, organisasi dan penerima manfaat, 4) Organisasi masyarakat sipil sebagai pengelola dana publik yang mampu untuk melakukan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Setelah istirahat siang, peserta diajak untuk berdiskusi tentang pengelolaan relawan dengan materi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”. Sebagian besar organisasi peserta sudah melakukan perekrutan relawan sehingga dalam penyampaian materi di sesi ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana organisasi melakukan pengelolaan relawan. Secara umum pengelolaan relawan yang dilakukan oleh beberapa organisasi peserta lokalatih belum sistematis. Pengelolaan relawan yang dilakukan masih ditataran perekrutan dan pelibatan kegiatan saja. Perekrutan relawan dilakukan hanya untuk kepentingan aksidental seperti; respon bencana alam dan kebutuhan project. Artinya, organisasi belum menempatkan relawan sebagai peluang regenerasi dan sumberdaya yang dapat mendukung visi dan misi organisasi kedepan. Diskusi bersama peserta kemudian diarahkan ke cara bagaimana mengelola relawan secara sistematis, antara lain:
1) Planning, adalah sebuah perencanaan untuk mengidentifikasi sejauh mana organisasi membutuhkan relawan, relawan yang seperti apa yang dibutuhkan oleh organisasi, apa penugasan-penugasan yang akan diberikan kepada relawan, berapa alokasi pendanaan yang dibutuhkan dalam melakukan pengelolaan relawan dan darimana sumber pendanaan yang digunakan, dan bagaimana mengantisipasi permasalahan yang muncul dengan adanya relawan di organisasi.
2) Rekruitmen lebih kepada bagaimana metode organisasi melakkan rekriutmen relawan.
3) Orientasi dan training, bagaimana organisasi membuat relawan untuk bisa mengenali dan memiliki organisasi, dan penguatan kapasitas apa saja yang harus diberikan kepada relawan untuk bisa menyelesaikan penugasan dalam membantu kerja-kerja organisasi.
4) Monitoring dan evaluasi, bagaimana organisasi melakukan monitoring dan evaluasi atas penugasan-penugasan yang diberikan kepada relawan, yang hasil dari monitoring dan evaluasi akan dijadikan dasar untuk keputusan-keputusan yang diambil terkait keberlanjutan relawan, misalnya kebutuhan untuk lebih meningkatkan kapasitas atau memberikan penugasan yanglebih tepat.
5) Pengakuan/recognition, dimana pengakuan dan penghargaan kepada relawan harus diberikan kepada organisasi, tidak selalu dalam bentuk barang akan tetapi dalam bentuk apapun yang bisa memberikan semangat bahwa relawan sangat membantu kerja-kerja organisasi.
Penekanan dalam diskusi terkait dengan pengelolaan relawan di organisasi adalah relawan sebagai salah satu aset organisasi yang seharusnya dikelola dengan sebaik-baiknya. Dalam sesi relawan, masing-masing organisasi melakukan simulasi perencanaan dalam pengelolaan relawan.

Setelah sesi “Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi”, materi dilanjutkan dengan “Maksimalisasi Pemanfaatan TIK dalam Mobilisasi Sumber Daya Organisasi”. Dalam sesi ini peserta diajak untuk melihat sejauh apa TIK bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja-kerja mobilisasi sumber daya. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dalam pemanfaatannya. Fasilitator mengajak untuk melihat website masing-masing organisasi, apakah informasi yang disampaikan di website sudah cukup informatif untuk mengenalkan siapa organisasinya. Belum banyak organisasi peserta lokalatih di Palu yang memiliki website, kebanyakan organisasi memanfaatkan facebook dan blog untuk mendokumentasikan hasil-hasil kerja organisasi meskipun secara pemanfaatan juga belum maksimal.
Diskusi tentang pemanfaatan TIK sebagai penutup lokalatih hari kedua.

Hari ke 3

Pada hari ketiga, diawali dengan materi “Membangun Strategi Pelibatan Para Pihak”. Para pihak yang dimaksud disini adalah pihak-pihak diluar organisasi yang mendukung kerja-kerja organisasi. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan identifikasi siapa pihak-pihak luar yang bisa dilibatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan template berisi empat kotak yaitu; Kotak 1 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis dan dekat, kotak 2 mengidentifikasi pihak yang sangat strategis tetapi jauh, kotak 3 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan kotak 4 mengidentifikasi pihak yang kurang strategis dan jauh.

Setelah melakukan identifikasi pihak menjadi empat tingkat strategis, peserta diajak untuk mengidentifikasi irisan kebutuhan dari masing-masing pihak yang dilibatkan dan dukungan apa yang diharapkan oleh organisasi dari pihak-pihak yang dilibatkan. Berdasarkan dari irisan kebutuhan antara pihak dan bentuk dukungan yang diharapkan oleh organisasi, selanjutnya dilakukan identifikasi strategi pendekatan yang harus dilakukan untuk menjalin kerjasama dengan pihak tersebut. Tentunya kepada masing-masing pihak mempunyai strategi yang berbeda.

Poin penting yang ditekankan kepada peserta adalah, ketika organisasi akan melakukan kerjasama dengan pihak luar maka organisasi harus mempunyai sebuah “produk”. Produk organisasi bukanlah program atau kegiatan, produk juga tidak selalu berupa barang, bisa berupa unit layanan, menu layanan, tools/perangkat, dan juga kerja kolaboratif. Produk bisa lahir dari sebuah program/proyek yang telah dijalankan, ataupun sebaliknya bisa melahirkan program/proyek. Produk organisasi inilah yang akan ditawarkan kepada pihak luar yang akan dilibatkan sebagai dasar kerjasama.

Dalam memahami produk organisasi, metode yang digunakan adalah menggunakan kanvas. Metode kanvas akan memandu peserta untuk menyusun sebuah konsep sederhana dalam melahirkan produk. 7 poin penting dalam metode kanvas antara lain:
1. Menentukan siapa penerima manfaatnya. Dalam menentukan penerima manfaat, organisasi harus mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat. Dalam mengidentifikasi permasalahan, organisasi harus bisa melihat lebih jauh lagi apa yang melatar belakangi permasalahan tersebut. Dengan begitu, organisasi bisa menentukan apa yang bisa diberikan kepada penerima manfaat.
2. Menentukan produk. Dalam menentukan produk, organisasi harus bisa memastikan bahwa produk yang dilahirkan bisa menjawab kebutuhan/permasalahan yang dihadapi oleh penerima manfaat.
3. Strategi yang digunakan dalam menjalankan produk organisasi.
4. Metode/cara yang dilakukan dalam melaksanakan strategi-strategi dalam mewujudkan produk.
5. Pihak luar yang dilibatkan. Pihak luar yang dilibatkan adalah pihak-pihak diluar organisasi dan diluar penerima manfaat. Bisa dari swasta, pemerintah, dan individu yang bisa mendukung kerja-kerja organisasi
6. Bentuk dukungan yang diharapkan dari pihak yang dilibatkan. Jika pihak yang dilibatkan lebih dari satu maka dalam mengidentifikasi dukungan yang diharapkan tentunya berbeda antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Dalam menentukan bentuk dukungan dari pihak yang dilibatkan, organisasi harus mempertimbangkan juga irisan kebutuhan antara organisasi dengan pihak yang dilibatkan. Komitman apa yang bisa diberikan organisasi kepada pihak yang dilibatkan.
7. Strategi untuk mengajak kerjasama pihak yang dilibatkan. Dikarenakan pihak yang dilibatkan adalah dari luar organisasi, maka organisasi harus menyiapkan strategi-strategi dalam mengajak kerjasama dengan pihak luar supaya pihak luar bersedia mendukung kerja-kerja organisasi.

Sebelum peserta melakukan simulasi menyusun produk organisasi, peserta diberikan tips bagaimana strategi untuk bekerja sama dengan pihak swasta dengan materi “Bagaimana Cara Melibatkan Private Sektor/Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi”.

Menutup sesi hari ketiga, peserta melakukan simulasi menyusun konsep produk menggunakan metode kanvas dengan berkolaborasi. Ada empat konsep yang kemudian di presentasikan oleh masing-masing kelompok organisasi antara lain:
a. Kelompok SIKLUS (Sikap Institute, KARSA, Imunitas, dan Wallacea Palopo) dengan prduk kolaborasi Forum BumDes
b. Kelompok ROA dan YPAL dengan produk kolaborasi Desa Kelola Lestari
c. Kelompok SASANU (YPS, UNANDA dan SALANGGAR) dengan produk kolaborasi Hutan wisata Berbasis Pohon Kayu Endemik
d. Kelompok AJUS (AJI Gorontalo dan JAPESDA) dengan produk kolaborasi Karamba Jaring Apung

Hari ke 4

Pada hari keempat, kegiatan lokalatih dimulai dengan post tes. Setelah post tes, peserta diajak diskusi tentang “Merubah Paradigma dan Mengelola Energi”. Diskusi di hari keempat ini adalah refleksi dari materi yang sudah disampaikan selama 3 hari. Sebelum diarahkan ke perubahan paradigma, peserta diajak untuk melihat tantangan yang dihadapi oleh organisasi masyarakat sipil di Indonesia antara lain dengan adanya donor yang berubah negara sasaran pendanaan, pola penyaluran pendanaan yang berbeda tidak lagi langsung kepada organisasi pelaksana, transformasi Indonesia menjadi negara “Middle Income Country”, banyaknya organisasi masyarakat sipil baru yang lahir, perubahan pandangan masyarakat melihat organisasi masyarakat sipil, dan beberapa tantangan lainnya.

Merubah paradigma yang dimaksud adalah merubah pemikiran tentang donor sebagai pemberi dana untuk bisa diajak kerjasama sesuai dengan visi misi organisasi, bukan sebagai pembeli jasa organisasi yang kemudian membuat organisasi tidak memiliki posisi tawar. Untuk menjadi organisasi yang memiliki posisi tawar, organisasi harus melakukan pola yang berbeda dari yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu: 1) Organisasi tidak hanya fokus kepada pelaksanaan program, tetapi harus fokus dalam melakukan penguatan kapasitas organisasi dan inovasi baru, 2) Transparansi dan akuntabilitas, 3) Komunikasi publik dan publikasi organisasi, 4) Pengelolaan data, informasi dan pengetahuan, dan memaksimalkan TIK sebagai dasar mengembangkan tawaran investasi baru.

Setelah istirahat siang, semua peserta menyusun Rencana Aksi Mobilisasi Sumber Daya Organisasi. Rencana Aksi masing-masing organisasi bisa dilihat di lampiran 1.

Lokalatih hari keempat diakhiri dengan peserta menyampaikan masukan dan kesan selama 4 hari berproses.

Pontianak, 12-15 Desember 2017 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Pontianak yang dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 15 Desember 2017 di Santika Hotel, Pontianak merupakan pelaksanaan lokalatih yang ke lima dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Unit Mobilisasi Sumber Daya yang diselenggarakan atas dukungan Robert Bosch Stiftung dan Yayasan Penabulu.

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Pontianak awalnya ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil di wilayah Sulawesi  yang ingin melakukan mobilisasi sumber daya dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pelaksanaannya. Akan tetapi dalam  pelaksanaan, organisasi yang ikut serta dalam lokalatih ini tidak hanya berasal dari Sulawesi Selatan melainkan juga dari Makassar.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Pontianak terdiri dari 20 orang dari 15 organisasi yang mempunyai latar belakang fokus isu yang berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain, adalah:

  1. Arifin Alapar, Executive Direktur Nusantara Social Solidarity Foundation
  2. Nico Bohor, Direktur Institute Menua Punjung
  3. Fajar Waksi, Koordinator Daerah Aliansi Remaja Indenpenden Sulawesi Selatan
  4. Epiyantono, divisi Jaringan, penelitian dan pengembangan Suar Institute
  5. Ahmad Sofian, Direktur Eksekutif LPS AIR
  6. Jumadi A, Direktur Program LPS AIR
  7. Heru Program, Manager Gemawan
  8. Ahmad Saufi, Direktur Program LPM Equator
  9. Jepriadi, Direktur Semayong Institute
  10. Hermanto, Sekretaris Riak Bumi
  11. Imanaul Huda, Direktur PRCF Indonesia
  12. Lulu M, Sekretaris PSP2KP
  13. A.Asmangin , Diputi Kelembagaan LMK-AR Borneo
  14. Eva Monica, Staf Keuangan PPSW Borneo
  15. Reny, Direktur PPSW Borneo
  16. Wahyu, Project Manager Titian Lestari
  17. Irma Heriyanti, Staf Keuangan Titian Lestari
  18. Benyamin Efrain, Direktur Eksekutif Institute Dayakologi
  19. Firdaus, Staff Divisi JARI
  20. Faisal R, Program Manager JARI

 

2. Tahapan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Materi dan metode penyampaian dalam lokalatih antara lain:

1. Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya

Materi ini merupakan materi refleksi untuk melihat kembali visi dan misi organisasi sebelum organisasi disiapkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Peserta diajak melihat kondisi organisasi, mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk mencapai visi. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya.

Dalam sesi diskusi, Budi dari Penabulu  mengatakan Peluangnya masih banyak dan jaringan dimainkan. Melihat ada tantangan. Tantangan baru NGO saat ini . ada data dis orientasi. Ada peluang luar biasa bergerak dengan model inovatif, pendanaan dan  pemerintahan.

Dalam sesi diskusi, peserta sudah sering mengindetifikasi SWOT, namun metodenya Berbeda. Sangat setuju terhadap pentingnya melihat kembali SWOT, Visi dan Misi organisasi untuk menentukan strategi keberlanjutan organisasi.

 

2. Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya

Materi ini adalah tentang konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya. Memaknai apa itu sumber daya dan model-model mobilisasi sumber daya yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang organisasi. Pada sesi ini ada simulasi dimana masing-masing organisasi kemudian menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

 

3. Menyiapkan Organisasi Penggalang Sumber Daya

Materi ini merupakan kesimpulan dari mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya dan konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya bagi organisasi. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan kepada peserta bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Tujuan dan hasil mobilisasi sumber daya harus seimbang antara individu yang ada didalam organisasi, organisasi dan kelompok-kelompok penerima manfaat dari kerja-kerja organisasi.

 

4. Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi

Sebagai salah satu bentuk mobilisasi sumber daya organisasi adalah mengelola relawan. Dalam sesi ini peserta lebih banyak diskusi dan berbagi bagaimana pengalaman masing-masing organisasi mengelola relawan. Apakah sesuai dengan tahapan dalam pengelolaan relawan antara lain: 1) Planning, 2) Rekrutmen, 3) Orientasi dan Training, 4) Monitoring dan evaluasi, 5) Recognition

 

5. Strategi Pelibatan Para Pihak

Materi Pelibatan Para Pihak memberikan pemahaman bagaimana organisasi mulai melibatkan pihak luar untuk mendukung kerja-kerja organisasinya. Dalam penyampaiannya, peserta diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak pendukung yang dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu; 1) Pihak yang strategis dan dekat, 2) pihak yang strategis tetapi masih jauh, 3) pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan 4) pihak yang kurang strategis dan jauh. Identifikasi ini dilakukan untuk kemudian organisasi melakukan strategi pendekatan pada 4 kelompok pihak tersebut yang tentunya dari masing-masing kelompok akan mempunyai strategi pendekatan yang berbeda.

Membuat Produk Organisasi

Dalam sesi ini, Peserta di bagi menjadi 4 kelompok secara random. Tiap kelompok membuat produk organisasi, terpilihnya produk atas kesepakatan kelompok tersebut. Metode pembuatan produk menggunakan canvas yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi kebutuhan organisasi masyarakat sipil.

Dalam sesi ini, Budi mengatakan Menarik metodologi 1,2 dan 5 kuncinya. 3,4,6,7 adalah caranya. Keterkaitan dengan produk. Strategi untuk penerima manfaat 1,2 dan 5 dan pemanfaatan  yang mendukung produk. No. 2 yang akan menjembatani 1 dan 5, 6 dan 7 akan mendukung 5, 3 dan 4 membantu menghasilkan produk.

 

6. Bagaimana Melibatkan Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi

Materi ini merupakan tips bagaimana organisasi akan melakukan kerja-kerja bersama dengan pihak swasta/sektor bisnis. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan simulasi yaitu menyusun sebuah konsep yang kemudian ditawarkan kepada pihak swasta.

 

7. Maksimalisasi TIK Dalam Mobilisasi Sumber Daya

TIK adalah alat utama yang bisa digunakan untuk kerja-kerja organisasi. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dengan memanfaatkan TIK.

 

8. Merubah paradigma dan Cerdas Mengelola Energi

Adalah bahan diskusi bersama sebagai kesimpulan dari 7 materi sebelumnya. Merubah paradigma mengajak organisasi untuk merubah pemikiran tentang ketergantungan dengan lembaga donor. Selain itu, metode bagaimana mengelola energi yang dimiliki oleh organisasi untuk penguatan kapasitas dan inovasi dalam kerja-kerja organisasi sangat penting untuk dilakukan.

Dalam sesi ini, Imanual dari PRCF konsesrsium jadi pilihan sangat terbuka dan membuka peluang, pengembangan dan kuat di kehutanan dan kelembagaan. Kekuatan untuk mengembangkan program yang besar

Dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Pontianak selama 4 hari, dalam prosesnya melibatkan fasilitator, trainer dan narasumber antara lain:

  1. Khairi Syah Fitria, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
  2. Ratna Dwi Puspitasari, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
  3. Budi Susilo, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu

Makassar, 24-27 Oktober 2017 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Makassar yang dilaksanakan pada tanggal 24 s/d 27 Oktober 2017 di Lariz Hotel Makassar merupakan pelaksanaan lokalatih yang kedua dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Unit Mobilisasi Sumber Daya yang diselenggarakan atas dukungan Robert Bosch Stiftung dan Yayasan Penabulu.

 

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Makassar awalnya ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil di wilayah Makassar yang ingin melakukan mobilisasi sumber daya dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pelaksanaannya. Akan tetapi dalam  pelaksanaan, organisasi yang ikut serta dalam lokalatih ini tidak hanya berasal dari Makassar dan Sulawesi Selatan melainkan juga dari Sulawesi Barat.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Makassar terdiri dari 17 orang dari 15 organisasi yang mempunyai latar belakang fokus isu yang berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain, adalah:

  1. Baharuddin, Ketua LPPM LAATANSA
  2. Eman M.H, Ketua KSM
  3. Ilham, Sekretaris KSM
  4. Supriadi, Staff Perkumpulan Katalis
  5. Siswan, Direktur Perkumpulan Katalis
  6. Asnawi, Ketua LAPAR Sul-Sel
  7. Karim, Direktur LAPAR Sul-sel
  8. Rezky Pratiwi, Sekretaris LBH Makassar
  9. Haedir, Wakil Direktur Internal LBH Makassar
  10. Rizal, Koordinator Lakpesdam
  11. Sugiyono, Direktur GIPA
  12. Harisah, Direktur KARESO
  13. Ardi Adriadi, Ketua Perkumpulan OASE
  14. Jasmani Akbar, Koordinator PD Aman Sinjai
  15. Adam K, Direktur Balang
  16. Abdul Azis, Ketua PBHI Sul-Sel
  17. Mohammad Rizal, Direktur YKL

 

2. Tahapan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Materi dan metode penyampaian dalam lokalatih antara lain:

1. Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya

Materi ini merupakan materi refleksi untuk melihat kembali visi dan misi organisasi sebelum organisasi disiapkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Peserta diajak melihat kondisi organisasi, mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk mencapai visi. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya.

Dalam sesi ini peserta diajak untuk membuat simulasi untuk melakukan kerja kelompok untuk membuat peta Swot Regional: Strengh, Opportunities/Challenges, Weakness/Limitations, Threat pada organisasi masing-masing di lembar metaplan. Peserta di ajak melihat Tantangan dan Peluang yang terkait dengan Sumber Daya di dalam organisasi masing-masing dengan cara berdiskusi. Dilanjutkan dengan kerja kelompok kembali untuk membuat Peta Swot Regional: Strengh, Opportunities/Challenges, Weakness/Limitations, Threat pada organisasi masing-masing di lembar metaplan. Hasil dari identifikasi apa yang sebenarnya yang dibutuhkan di organisasi adalah uang, manusia, kekuatan manusia.

 

2. Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya

Materi ini adalah tentang konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya. Memaknai apa itu sumber daya dan model-model mobilisasi sumber daya yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang organisasi. Pada sesi ini ada simulasi dimana masing-masing organisasi kemudian menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

Dalam sesi ini, Poin  terpenting dalam manfaat mobilisasi sumber daya yaitu meningkatkan posisi tawar dan harga diri organisasi. Tidak bergantung penuh pada donor dan memiliki independensi dalam manajemen organisasi. Sebab donor merusak ikatan komunitas yang telah dibangun, merusak ideologi dan visi yang sama-sama disepakati. Donor ini yang merusak jalannya komunitas dan lembaga, sebab memecah belah budaya komunitas yang telah ada/status.

 

3. Menyiapkan Organisasi Penggalang Sumber Daya

Materi ini merupakan kesimpulan dari mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya dan konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya bagi organisasi. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan kepada peserta bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Tujuan dan hasil mobilisasi sumber daya harus seimbang antara individu yang ada didalam organisasi, organisasi dan kelompok-kelompok penerima manfaat dari kerja-kerja organisasi.

 

4. Strategi Pelibatan Para Pihak

Materi Pelibatan Para Pihak memberikan pemahaman bagaimana organisasi mulai melibatkan pihak luar untuk mendukung kerja-kerja organisasinya. Dalam penyampaiannya, peserta diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak pendukung yang dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu; 1) Pihak yang strategis dan dekat, 2) pihak yang strategis tetapi masih jauh, 3) pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan 4) pihak yang kurang strategis dan jauh. Identifikasi ini dilakukan untuk kemudian organisasi melakukan strategi pendekatan pada 4 kelompok pihak tersebut yang tentunya dari masing-masing kelompok akan mempunyai strategi pendekatan yang berbeda.

Membuat Produk Organisasi

Dalam sesi ini, Peserta di bagi menjadi 2 kelompok secara random. Tiap kelompok membuat produk organisasi, terpilihnya produk atas kesepakatan kelompok tersebut. Metode pembuatan produk menggunakan canvas yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi kebutuhan organisasi masyarakat sipil.

 

5. Bagaimana Melibatkan Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi

Materi ini merupakan tips bagaimana organisasi akan melakukan kerja-kerja bersama dengan pihak swasta/sektor bisnis. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan simulasi yaitu menyusun sebuah konsep yang kemudian ditawarkan kepada pihak swasta

 

6. Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi

Sebagai salah satu bentuk mobilisasi sumber daya organisasi adalah mengelola relawan. Dalam sesi ini peserta lebih banyak diskusi dan berbagi bagaimana pengalaman masing-masing organisasi mengelola relawan. Apakah sesuai dengan tahapan dalam pengelolaan relawan antara lain: 1) Planning, 2) Rekrutmen, 3) Orientasi dan Training, 4) Monitoring dan evaluasi, 5) Recognition

Dalam sesi ini, menurut Resky Pratiwi dari LBH Makassar, awal bergabung dengan LBH menjadi Kalah Bahu kemudian di angkat menjadi Voluntire dengan step by step setelah menjadi voluntire baru dilibatkan ke pendampingan-pendampingan.

 

7. Maksimalisasi TIK Dalam Mobilisasi Sumber Daya

TIK adalah alat utama yang bisa digunakan untuk kerja-kerja organisasi. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dengan memanfaatkan TIK.

 

8. Merubah paradigma dan Cerdas Mengelola Energi

Adalah bahan diskusi bersama sebagai kesimpulan dari 7 materi sebelumnya. Merubah paradigma mengajak organisasi untuk merubah pemikiran tentang ketergantungan dengan lembaga donor. Selain itu, metode bagaimana mengelola energi yang dimiliki oleh organisasi untuk penguatan kapasitas dan inovasi dalam kerja-kerja organisasi sangat penting untuk dilakukan.

Dalam sesi ini, Karim dari LAPAR Sul-sel mengatakan banyak faktor internal kaderisasi dan faktor eksternal perubahan anank-anak muda saat ini, dahulu NGO sebagai Magnet memliki energi dan daya tarik atau aura dari mahasiswa tetapi sekarang menjadi hilang.

Dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Yogyakarta selama 4 hari, dalam prosesnya melibatkan fasilitator, trainer dan narasumber antara lain:

  • Khairi syah Fitria, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
  • Ratna Dwi Puspitasari, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
  • Herman Suparman Simanjuntak, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu

Bogor, 16-19 Januari 2018 Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil dilaksanakan di Kota Bogor pada tanggal 16 s/d 19 Januari 2018 di Papyrus Tropical, Bogor merupakan pelaksanaan lokalatih yang terakhir dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh Unit Mobilisasi Sumber Daya yang diselenggarakan atas dukungan Robert Bosch Stiftung dan Yayasan Penabulu.

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Kota Bogor awalnya ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil di wilayah DKI Jakarta dan Bogor yang ingin melakukan mobilisasi sumber daya dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pelaksanaannya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, organisasi yang ikut serta dalam lokalatih ini tidak hanya berasal dari DKI Jakarta dan Jawa Barat tetapi hadir juga dari Semarang, Jawa Tengah

1. Peserta
Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Bogor terdiri dari 21 orang dari 19 organisasi yang mempunyai latar belakang fokus isu yang berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain, adalah:

1. Nor Hikmah, Direktur Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC)
2. B.Prayudi, Program Officer Suara Kita
3. Salma, Bidang Organisasi The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ)
4. Oming Putri, Knowledge Managemant Koalisi Seni Indonesia
5. Sam Nugraha, Direktur Executive Perkumpulan Peka
6. Almira Andriana, Wakil Koordinator Nasional Aliansi Remaja Independen
7. Bonitha M, Direktur Exekutive Daerah PKBI DKI Jakarta
8. Yudistira, Kordinator Officer Indonesia Bussiness Link
9. Indra Situmorang, Humas Rumah Cemara
10. Samsu Budiman, Ketua Umum KULDESAK
11. Guntur H, Koordinator Lingkar Harapan
12. Keinara Hana, Coordinator Officer Sanggar Swara
13. Gina AWP, Coordinator SFD Rumah Cemara
14. Elin, Program Manager Bahtera
15. Ridwan Faridz, Program Manager Sapa Institute
16. Yamin, Direktur Executive BSB
17. Ajat, Program Officer Lakpesdam NU Tasikmalaya
18. Iskandar, Direktur KALAM Foundation
19. Supriyadi, Sekertaris Jenderal Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI)
20. Mardha Tilla dan Wahyu, Bidang Kampanye Rimbawan Muda Indonesia (RMI)

2. Tahapan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Materi dan metode penyampaian dalam lokalatih antara lain:

1. Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini merupakan materi refleksi untuk melihat kembali visi dan misi organisasi sebelum organisasi disiapkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Peserta diajak melihat kondisi organisasi, mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk mencapai visi. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya.
Dalam sesi diskusi, peserta sudah sering mengindetifikasi SWOT, namun metodenya Berbeda. Sangat setuju terhadap pentingnya melihat kembali SWOT, Visi dan Misi organisasi untuk menentukan strategi keberlanjutan organisasi.

2. Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini adalah tentang konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya. Memaknai apa itu sumber daya dan model-model mobilisasi sumber daya yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang organisasi. Pada sesi ini ada simulasi dimana masing-masing organisasi kemudian menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan

3. Menyiapkan Organisasi Penggalang Sumber Daya
Materi ini merupakan kesimpulan dari mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya dan konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya bagi organisasi. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan kepada peserta bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Tujuan dan hasil mobilisasi sumber daya harus seimbang antara individu yang ada didalam organisasi, organisasi dan kelompok-kelompok penerima manfaat dari kerja-kerja organisasi.

Dalam sesi diskusi, Yamin dari BSB mengatakan jika ingin melakukan audit eksternal harus mengeluarkan biaya lebih. Karena ini langkah untuk mempermudah bantuan dari CSR atau Pemberi Dana.

4. Strategi Pelibatan Para Pihak
Materi Pelibatan Para Pihak memberikan pemahaman bagaimana organisasi mulai melibatkan pihak luar untuk mendukung kerja-kerja organisasinya. Dalam penyampaiannya, peserta diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak pendukung yang dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu; 1) Pihak yang strategis dan dekat, 2) pihak yang strategis tetapi masih jauh, 3) pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan 4) pihak yang kurang strategis dan jauh.

Selanjutnya, peserta diajak untuk membuat produk organisasi atau produk kolaborasi menggunakan metode kanvas produk yang telah di modifikasi sesuai dengan kebutuhan. Dalam konsep kanvas ini, ada 7 blok yang harus di analisa seperti; 1) Penerima manfaat, 2) Produk, 3) Strategi dalam melaksanaan produk, 4) Metode Pelaksanaan, 5) Pihak luar yang dilibatkan, 6) Bentuk dukungan yang diharapkan dan 7) Metode/ strategi membangun relasi dengan pihak-pihak yang dilibatkan

Sesuai kesepakatan, dalam sesi ini di bagi menjadi 5 kelompok secara random dimana hasil dari produk kolaborasi tersebut akan di presentasikan kepada panelis di hari selanjutnya.

5. Kerjasama Program CSD dengan Lembaga Swadaya Masyarakat
Materi ini dibawakan oleh Teguh Mudjiono selaku Narasumber tamu dari PT. Amerta konsultan. Materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik organisasi yang berada di Jawa Barat ini membahas tentang apa saja program yang bisa dikerjasamakan antara CSR dengan Lembaga Swadaya Masyarakat. Dalam sesi materi ini menggunakan metode sharing dan diskusi. Namun di awal sesi, Teguh mengajak peserta untuk memahami dulu tentang apa itu CSR, LSM, SDGs, kemitraan dengan perusahaan dan LSM serta kerjasama perusahaan dengan LSM.
6. Bagaimana Melibatkan Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi
Materi ini merupakan tips bagaimana organisasi akan melakukan kerja-kerja bersama dengan pihak swasta/sektor bisnis.

7. Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi
Sebagai salah satu bentuk mobilisasi sumber daya organisasi adalah mengelola relawan. Dalam sesi ini peserta lebih banyak diskusi dan berbagi bagaimana pengalaman masing-masing organisasi mengelola relawan. Apakah sesuai dengan tahapan dalam pengelolaan relawan antara lain: 1) Planning, 2) Rekruitmen, 3) Orientasi dan Training, 4) Monitoring dan evaluasi, 5) Recognition

Dalam sesi diskusi, Bonitha memberikan pengalaman dari PKBI dalam perekrutan staf di dalam organisasinya berawal dari relawan sehingga relawan itu sudah terbiasa memiliki rasa kepemilikan organisasi.

7. Maksimalisasi TIK Dalam Mobilisasi Sumber Daya
TIK adalah alat utama yang bisa digunakan untuk kerja-kerja organisasi. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dengan memanfaatkan TIK.

8. Merubah paradigma dan Cerdas Mengelola Energi
Adalah bahan diskusi bersama sebagai kesimpulan dari 7 materi sebelumnya. Merubah paradigma mengajak organisasi untuk merubah pemikiran tentang ketergantungan dengan lembaga donor. Selain itu, metode bagaimana mengelola energi yang dimiliki oleh organisasi untuk penguatan kapasitas dan inovasi dalam kerja-kerja organisasi sangat penting untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Bogor selama 4 hari, dalam prosesnya melibatkan fasilitator, trainer dan narasumber antara lain:

1. Khairi syah Fitria, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
2. Ratna Dwi Puspitasari, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
3. Dini Indrawati, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
4. Teguh Mudjiyono, Narasumber dari PT. Amerta Konsultan

Mataram 14-17 November 2017, Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Mataram pada tanggal 14-17 November 2017 di Pratama Hotel merupakan pelaksanaan lokalatih yang ketiga dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh Unit Mobilisasi Sumber Daya yang diselenggarakan atas dukungan Robert Bosch Stiftung dan Yayasan Penabulu.

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Mataram ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil di wilayah Nusa Tenggara Barat yang ingin melakukan mobilisasi sumber daya dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pelaksanaannya.

1. Peserta
Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Mataram terdiri dari 17 orang dari 15 organisasi yang mempunyai latar belakang fokus isu yang berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain, adalah:
1. Ikhsan Ramdhany, Ketua FORMAPI-NTB
2. Hajad Guna, Ketua Speaker Kampung
3. Fikrillah M.Sanusi, Editor Speaker Kampung
4. Fitriyah, Bendahara LBH-Dharma Yustisia
5. Lalu Rusmat, Ketua LBH-Dharma Yustisia
6. Luthfatul Azizah, Divisi Penguatan Organisasi Solidaritas Perempuan Mataram
7. Gendewa Tr, koordinator SANTIRI
8. Jelita Sukrama, Sekretaris Foundation Jarpuk Rindang
9. Syafruddin, koordinator Program LENSA – NTB
10. Minardi, Ketua YLKMP
11. M.Zainul Kirom, Sekretaris LMRS-NTB
12. Salvina Juliayani, Media & Publikasi INSPIRASI-NTB
13. Fahrunnisa, Direktur SAMAWA Center
14. Dewi, Sekretaris JAGAD
15. Dodik Sutikno, Ketua Amanda Paer Daya

2. Tahapan Pelaksanaan
Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Materi dan metode penyampaian dalam lokalatih antara lain:

1. Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini merupakan materi refleksi untuk melihat kembali visi dan misi organisasi sebelum organisasi disiapkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Peserta diajak melihat kondisi organisasi, mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk mencapai visi. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya.
Dalam sesi diskusi, peserta sangat setuju terhadap pentingnya melihat kembali SWOT, Visi dan Misi organisasi untuk menentukan strategi keberlanjutan organisasi.

2. Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini adalah tentang konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya. Memaknai apa itu sumber daya dan model-model mobilisasi sumber daya yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang organisasi. Pada sesi ini ada simulasi dimana masing-masing organisasi kemudian menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

3. Menyiapkan Organisasi Penggalang Sumber Daya
Materi ini merupakan kesimpulan dari mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya dan konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya bagi organisasi. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan kepada peserta bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Tujuan dan hasil mobilisasi sumber daya harus seimbang antara individu yang ada didalam organisasi, organisasi dan kelompok-kelompok penerima manfaat dari kerja-kerja organisasi.
Dalam sesi diskusi, Minardi, dari YLKMP mengatakan keadaan saat ini individu masih bekerja sendiri-sendiri, sedangkan organisasi hanya fokus pada satu isu, belum kuat secara sistem sehingga saat ini masih saja bergantung terhadap permintaan donor.

4. Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi
Sebagai salah satu bentuk mobilisasi sumber daya organisasi adalah mengelola relawan. Dalam sesi ini peserta lebih banyak diskusi dan berbagi bagaimana pengalaman masing-masing organisasi mengelola relawan. Kendala yang sering di hadapi dalam mengelola relawan adalah relawan yang pergi ke tempat lain setelah mendapatkan peningkatan kapasitas. Perlu di lihat kembali, apakah dalam mengelola relawan sudah sesuai dengan tahapan pengelolaan relawan seperti: 1) Planning, 2) Rekrutmen, 3) Orientasi dan Training, 4) Monitoring dan evaluasi, 5) Recognition.

5. Strategi Pelibatan Para Pihak
Materi Pelibatan Para Pihak memberikan pemahaman bagaimana organisasi mulai melibatkan pihak luar untuk mendukung kerja-kerja organisasinya. Dalam penyampaiannya, peserta diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak pendukung yang dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu; 1) Pihak yang strategis dan dekat, 2) pihak yang strategis tetapi masih jauh, 3) pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan 4) pihak yang kurang strategis dan jauh. Identifikasi ini dilakukan untuk kemudian organisasi melakukan strategi pendekatan pada 4 kelompok pihak tersebut yang tentunya dari masing-masing kelompok akan mempunyai strategi pendekatan yang berbeda.

6. Membuat Produk Organisasi
Dalam sesi ini, Peserta di bagi menjadi 2 kelompok secara random. Tiap kelompok membuat sebuah produk organisasi, terutama produk kolaborasi antar organisasi di NTB. Metode pembuatan produk menggunakan metode canvas yang sudah di modifikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi masyarakat sipil.

7. Sharing inspiratif
Materi yang dibawakan oleh Theo selaku Direktur Yayasan Sadar Hati Malang ini, adalah materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik organisasi yang berada di NTB. Dalam sesi ini, narasumber menceritakan berbagai pengalaman tentang bagaimana mengelola sumberdaya organisasi salah satunya dengan membangun sebuah unit bisnis. Unit bisnis yang dibangun bukan hanya usaha yang mengandalkan profit, tapi bagaimana dengan unit usaha ini dapat menghasilkan dampak yang baik bagi komunitas ataupun lingkungan.

8. Bagaimana Melibatkan Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi
Materi ini merupakan tips bagaimana organisasi akan melakukan kerja-kerja bersama dengan pihak swasta/sektor bisnis. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan simulasi yaitu menyusun sebuah konsep yang kemudian ditawarkan kepada pihak swasta.

9. Maksimalisasi TIK Dalam Mobilisasi Sumber Daya
TIK adalah alat utama yang bisa digunakan untuk kerja-kerja organisasi. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dengan memanfaatkan TIK

10. Merubah paradigma dan Cerdas Mengelola Energi
Adalah bahan diskusi bersama sebagai kesimpulan dari 7 materi sebelumnya. Merubah paradigma mengajak organisasi untuk merubah pemikiran tentang ketergantungan dengan lembaga donor. Selain itu, metode bagaimana mengelola energi yang dimiliki oleh organisasi untuk penguatan kapasitas dan inovasi dalam kerja-kerja organisasi sangat penting untuk dilakukan.
Nana dari Penabulu Foundation menjelaskan tentang bagaimana pergeseran-pergeseran lembaga donor,” Organisasi yang bagus adalah Fleksibel”.

Dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Yogyakarta selama 4 hari, dalam prosesnya melibatkan fasilitator, trainer dan narasumber antara lain:
1. Khairi syah Fitria, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
2. Ratna Dwi Puspitasari, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
3. Mohammad Theo Zainuri, Spesialis Unit Usaha Yayasan Sadar Hati

Medan 27-30 November 2017, Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Medan yang dilaksanakan pada tanggal 27 – 30 November 2017 di Grand Impression Hotel, Medan merupakan pelaksanaan lokalatih yang keempat dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih mobilisasi sumber daya yang dilakukakan oleh Unit Mobilisasi Sumber Daya yang diselenggarakan atas dukungan Robert Bosch Stiftung dan Yayasan Penabulu.

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Medan ditujukan untuk organisasi masyarakat sipil di wilayah Aceh dan Medan yang ingin melakukan mobilisasi sumber daya dan membutuhkan penguatan kapasitas dalam pelaksanaannya.

1. Peserta

Peserta Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Medan terdiri dari 17 orang dari 15 organisasi yang mempunyai latar belakang fokus isu yang berbeda antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain, adalah:

1. Teddy Firman Supardi, Direktur Eksekutif Depublica Institute
2. Marto, Program Manajer Simalungun Support
3. Maringan Pardede, Suv. Fundraising Pesada
4. M. Sutono, Direktur Eksekutif Pundi Sumatera
5. Affrizal, Ketua Yayasan Anjong Atjeh
6. Parlamean N, Sekretaris Pesat
7. Listiani, Ketua Pesat
8. Happy, Ketua Holi’ana’a
9. Bekmi Silalahi, Direktur Eksekutif ELSAKA
10. Yhonatan FP, Manajer Program ELSAKA
11. Ferry Wira P, Deputi Direktur Aliansi Sumut Bersatu
12. Gabriel Sinaga, Staff Program Aliansi Sumut Bersatu
13. Eka Prahadian Abdurrahman, Branch Manajer Perkumpulanm Peka
14. Sukma MT, Manajer Program AFCE-NAD
15. Intan Dirja, Koordinator PKPA
16. Andreas s. Suhendro, Ketua Sekolah Alam Medan
17. Budi Awaludin, Direktur Eksekutif TIME Sumatera
18. Renta Marina, Direktur SOI

2. Tahapan Pelaksanaan

Metode belajar yang digunakan dalam lokalatih ini adalah metode belajar orang dewasa, dimana partisipasi dan keterlibatan peserta menjadi landasan utama bagi metode pembelajaran bersama. Materi disampaikan oleh trainer dengan memberikan ruang tukar pengalaman antar peserta dan simulasi bagi peningkatan keterampilan teknis serta diskusi/kerja kelompok untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang akan dapat menjadi panduan operasional masing-masing organisasi setelah lokalatih.

Materi dan metode penyampaian dalam lokalatih antara lain:

1. Mengapa Organisasi Masyarakat Sipil Melakukan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini merupakan materi refleksi untuk melihat kembali visi dan misi organisasi sebelum organisasi disiapkan untuk melakukan mobilisasi sumber daya. Peserta diajak melihat kondisi organisasi, mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan yang dibutuhkan untuk mencapai visi. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang yang dihadapi organisasi dalam melakukan mobilisasi sumber daya.

2. Konsep dan Tujuan Mobilisasi Sumber Daya
Materi ini adalah tentang konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya. Memaknai apa itu sumber daya dan model-model mobilisasi sumber daya yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang organisasi. Pada sesi ini ada simulasi dimana masing-masing organisasi kemudian menentukan bentuk mobilisasi sumber daya apa yang sesuai dengan organisasinya dengan menempelkan sticker pada template bentuk mobilisasi sumber daya yang telah disediakan.

3. Menyiapkan Organisasi Penggalang Sumber Daya
Materi ini merupakan kesimpulan dari mengapa organisasi harus melakukan mobilisasi sumber daya dan konsep dan tujuan mobilisasi sumber daya bagi organisasi. Dalam penyampaiannya, lebih ditekankan kepada peserta bahwa, organisasi yang mampu melakukan mobilisasi sumber daya adalah organisasi yang; 1) Siap menghadapi dinamika perubahan yang begitu cepat, artinya adalah organisasi yang sering untuk melihat kedalam untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan, dan organisasi yang sering melihat keluar untuk membaca peluang dan menghadapi tantangan, 2) Fokus pada pengelolaan sumber daya yang dimiliki, artinya organisasi tidak hanya fokus pada pencarian sumber daya tapi juga harus melakukan penguatan organisasi. Selain dua hal tersebut, organisasi harus mempunya tujuan dan hasil yang jelas dalam melakukan mobilisasi sumber daya. Tujuan dan hasil mobilisasi sumber daya harus seimbang antara individu yang ada didalam organisasi, organisasi dan kelompok-kelompok penerima manfaat dari kerja-kerja organisasi.

4. Mengelola Relawan Sebagai Sumber Daya Organisasi
Sebagai salah satu bentuk mobilisasi sumber daya organisasi adalah mengelola relawan. Dalam sesi ini peserta lebih banyak diskusi dan berbagi bagaimana pengalaman masing-masing organisasi mengelola relawan. Apakah sesuai dengan tahapan dalam pengelolaan relawan antara lain: 1) Planning, 2) Rekrutmen, 3) Orientasi dan Training, 4) Monitoring dan evaluasi, 5) Recognition

5. Strategi Pelibatan Para Pihak
Materi Pelibatan Para Pihak memberikan pemahaman bagaimana organisasi mulai melibatkan pihak luar untuk mendukung kerja-kerja organisasinya. Dalam penyampaiannya, peserta diajak untuk mengidentifikasi pihak-pihak pendukung yang dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu; 1) Pihak yang strategis dan dekat, 2) pihak yang strategis tetapi masih jauh, 3) pihak yang kurang strategis tetapi dekat, dan 4) pihak yang kurang strategis dan jauh. Identifikasi ini dilakukan untuk kemudian organisasi melakukan strategi pendekatan pada 4 kelompok pihak tersebut yang tentunya dari masing-masing kelompok akan mempunyai strategi pendekatan yang berbeda.

6. Maksimalisasi TIK Dalam Mobilisasi Sumber Daya
TIK adalah alat utama yang bisa digunakan untuk kerja-kerja organisasi. Dalam melakukan mobilisasi sumber daya, pemanfaatan TIK sangat penting untuk bisa membuat pihak luar mengenali organisasi. Penyampaian materi ini lebih kepada bagaimana metode pemanfaatan TIK dan apa saja yang bisa dilakukan oleh organisasi dengan memanfaatkan TIK

7. Bagaimana Melibatkan Pihak Swasta Dalam Kerja-kerja Organisasi
Materi ini merupakan tips bagaimana organisasi akan melakukan kerja-kerja bersama dengan pihak swasta/sektor bisnis. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melakukan simulasi yaitu menyusun sebuah konsep yang kemudian ditawarkan kepada pihak swasta.

8. Merubah paradigma dan Cerdas Mengelola Energi
Adalah bahan diskusi bersama sebagai kesimpulan dari 7 materi sebelumnya. Merubah paradigma mengajak organisasi untuk merubah pemikiran tentang ketergantungan dengan lembaga donor. Selain itu, metode bagaimana mengelola energi yang dimiliki oleh organisasi untuk penguatan kapasitas dan inovasi dalam kerja-kerja organisasi sangat penting untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaan Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil di Yogyakarta selama 4 hari, dalam prosesnya melibatkan fasilitator, trainer dan narasumber antara lain:
1. Khairi syah Fitria, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
2. Ratna Dwi Puspitasari, Spesialis Mobilisasi Sumber Daya Yayasan Penabulu
3. Dini Andriani, spesialis Unit Usaha Swasta

Yogyakarta 10-13 Oktober 2017, Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil

Lokalatih Mobilisasi Sumber Daya Organisasi Masyarakat Sipil yang dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 10 s/d 13 Oktober 2017 merupakan pelaksanaan lokalatih yang pertama dari 6 rangkaian kegiatan lokalatih