Mobilisasi Sumberdaya Dengan Layanan Unit Usaha Volunteerisme dan Pengelolaan TIK

 

Pembicara: Dian Askhabul Yamin, Managing Director Yayasan Bina Sarana Bakti

Sebagai bentuk mobilisasi sumber daya organisasi, Yayasan Bina Sarana Bakti Bogor dengan cara:

  1. Bentuk Volunteerisme atau pengelolaan relawan
  2. Membuat unit usaha sendiri untuk keberlanjutan organisasi
  3. Pengelolaan teknologi dan komunikasi

Dalam menjalankan 3 hal tersbut memiliki ketertarikan akan semakin meningkatkan sumber daya yang kami miliki dalam konteks relawan dengan memberi ruang untuk belajar dan berkembang mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk menunjang visi dan misi organisasi  serta cita-cita bisa terwujud.

Dalam mengelola unit usaha kami kelola ada dua bentuk yaitu:

  1. Berbentuk perseroan berupa traiding dan produksi dengan penerima manfaat konsumen organic atau para penikmat organic. Terkait unit usaha perseroan menghubungkan langsung produsen dan konsumen. Dari sector pertanian untuk memberikan rasa keadilan juga. Dari sisi konsumen dan produsennya.
  2. Berbentuk layanan dan training untuk petani-petani yang ingin berkecimpung sebagai petani organic

Dian Askhabul Yamin selaku Managing Director Bina Sarana Bakti mengatakan bahwa fokus pertanian organik, pendampingan dan menyediakan pasar.

Keterlibatan pemerintah atas ijin usaha dan dukungan-dukungan lain disektor materiilnya, mencoba mengkolaborasikan produk-produk dan cara memasarkan, mendistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit, komunitas-komunitas yang menikmati dan berkeinginan untuk mengkonsumsi.

Dalam Pelaksanaannya, Yayasan Bina Sarana Bakti menghadapi beberapa kendala seperti perekrutan voluntire tidak terbuka. Sebagai kader atau apa kebutuhan kami. Misalnya kami membutuhkan tenaga ahli pengelolaan limbah air sungai memiliki ruang waktu dan mencoba  kiprah dan berfikir bersama dlam jangka tertentu

Agar Yayasan Bina Sarana Bakti ini terus berkembang, Strategi yang dilakukan dalam kontribusi mengarah kepada kemandirian organisasi untuk sustainability organisasi sendiri dalam bentuk mobilisasi sumnberdaya yang kami lakukan adalah bekerjasama melalui pihak-pihak atau melalui CSR dalam konteks pemberdayaan masyarakat.

Hambatan-hambatan yang kami alami adalah merubah mainset kami dan tantangan terberat kami sebuah organisasi masyarakat sipil harus berfikir konteks usaha dimana harus menghasilkan sumber daya lain untuk menghidupkan organisasi. Tetapi secara perlahan untuk mengembangkan usaha itu sendiri secara langsung tidak di handle namun dipisahkan dari managemen agar memiliki keleluasaan bekerja unit usaha tidak tergantung pada kerja-kerja organisasi.

 

Diakhir cerita, Yamin  memotivasi organisasi lain agar Organisasi masyarakat sipil harus bisa mandiri, bekerja sendiri berdiri di atas kaki sendiri untuk keberlanjutan organisasi memerlukan tenaga luar biasa dan tidak bergantung pada donor sebagai sebuah lembaga, meyakini sikap itu lebih penting dari teknisnya. Bisa menjalankan mimpi besar harus dibarengi dengan sikap agar mencapai visi dan misi

“Mandiri dan menjalankan mimpi besar dengan Sikap agar keberlanjutan organisasi tetap sustain”. (Dian Askhabul Yamin