Mobilisasi Sumberdaya dengan Layanan Sport Development

 

Pembicara: Indra Simorangkir, Public Relation Rumah Cemara

 

Rumah Cemara berdiri pada tanggal 1 Januari 2003 dengan visi Indonesia tanpa stigma dan Diskriminasi. Indra Simorangkir, selaku Public Relation Rumah Cemara memaparkan pengalamannya terkait mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh Rumah Cemara.

Rumah Cemara bergerak pada isu organisasi berbasis komunitas untuk penanggulangan orang HIV, konsumen napza dan kaum marjinal terutama anak jalanan. Untuk mencapai visi itu mencari kendaraan dengan mencapai visi dan misi. Membuat suatu program impulsive memerlukan banyak resource atau sumber. Salah satu yang mendorong pengembangan Sport For Development atau olahraga untuk pemberdayaan dimana teman-teman dari komunitas dan masyarakat umum bisa mengakses layanan tersebut menjadi satu komunitas nuktur dan membentuk satu gerakan untuk mencapai visi dan misi  tersebut.

Ide yang di lahirkan dari sebuah stigma, bahwa orang HIV, konsumen napza dan kaum marjinal dilingkup masyarakat, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan kegiatan olahraga menjadi pilihan lain dari ketergantungan napza, ketika mengikuti olahraga mengalami peningkatan kualitas terjadi ini adalah terobosan program dengan melibatkab lebih banyak orang lain dan stigma dan diskriminatif lebih terkikis..

Untuk membangun sebuah Sport For Development itu tidak mudah, awalnya mencoba membangun dari Internal organisasi dengan melakukan pemberdayaan olahraga, sehingga:

  1. Teman-teman Rumah Cemara sangat suka dengan olahraga, berlatih rutin dengan melibatkan tema-teman dari luar dan lebih mudah.
  2. Melakukan pertandingan-pertandingan sehingga banyak yang bisa diundang untuk mengikuti olahraga yang kita lakukan. Dengan banyak orang yang membangun jaringan dimana dapat akses-akses untuk sponsorship dan suatu kejuaraan atau pertandingan yang membawa kendaraan Rumah Cemara.

Dalam melakukan pengembangan olahraga untuk pemberdayaan dimana bisa dari komunitas dan masyarakat umum mengakses layanan. Program olahraga melalui sepak bola bisa mensupport tim nasional ke homeless world sport dipercaya sebagai organization national untuk mengelola tim perwakilan Indonesia dan menjalankan olahraga sebagai kendaraan dengan kualitas hidup komunitas dan masyarakat umum dan tinju sebagai kendaraan dengan kualitas hidup komunitas dan masyarakat umum sehingga memiliki beberapa teman yang sudah berprestasi dan membuat sasana di wilayah Kota Bandung.

Biaya yang didapat untuk pendaftaran tinju (boxing) adalah 15 ribu per latihan. Peserta yang hadir dalam latihan tinju ini 20-40 orang. Biaya tersebut untuk menyewa pelatih. Pendanaan masih 50:50 untuk saving boxing karena program sangat individual mengajukan proposal lebih sulit daripada sepak bola.

Tantangannya adalah mencari sumberdaya untuk mengakses lebih banyak dan challenge untuk mengubah presepsi bahwa dilakukan  teman-teman dengan segenap hati hasil lebih maksimal dan mengubah paradigma.

Peluang sebagai kendaraan cabang olahraga lain yang melibatkan masyarakat yang inclusive dimana latar belakang berbeda dan bergabung bisa berdiskusi banyak hal. Pemahaman pandangan yang sama membuat perubahan dan proses yang baik.

Kedepannya Rumah Cemara  akan melakukan strategi  mengajak provinsi lain untuk menjadi tuan rumah. Dengan peserta berlatarbelakang berbeda menjadi timnas. Organisasi bisa menjadi mandiri dan menjadi nilai-nilai kebersamaan yang bisa ditularkan

 

Kenali diri dahulu, ketika yang disukai menjadi pasion. “Indra Simorangkir”