Arah dan ukuran keberhasilan pembangunan kini akan sangat ditentukan seberapa besar irisan sinergi dapat dilakukan oleh tiga pihak pelaku pembangunan. Pelaku pembangunan yaitu sisi Pemerintah, Bisnis dan Organisasi Masyarakat Sipil.

Model pembangunan yang kini dikembangkan, tidak juga dapat memangkas tingkat kemiskinan masyarakat secara signifikan. Terus bergulirnya program-program bantuan bagi masyarakat, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga donor, tampaknya tidak juga bisa mengatasi kompleksnya permasalahan kemiskinan secara memuaskan.

Peran sektor masyarakat sipil sebagai salah satu pilar keseimbangan pembangunan berkelanjutan menjadi sangat penting, karena kemitraan dengan sektor masyarakat sipil akan mampu menciptakan ruang kesetaraan dialog yang cukup luas bagi begitu kompleksnya permasalahan dan kondisi yang sesungguhnya kini sedang dihadapi masyarakat.

Kebutuhan akan kuatnya peran sektor masyarakat sipil merupakan sudut pandang baru dalam konstalasi kemitraan bagi pembangunan berkelanjutan.

Ketika kesadaran atas peran organisasi masyarakat sipil dalam pembangunan berkelanjutan mulai berkembang menjadi sebuah kebutuhan mutlak, ternyata keberadaan organisasi masyarakat sipil sendiri menyisakan berbagai masalah mendasar, antara lain: adanya kesenjangan pendanaan kerja pembangunan jangka panjang, tidak adanya kapasitas yang memadai untuk menjadi pelaku pembangunan secara komprehensif, lemahnya struktur dan kelembagaan pendukung yang mampu menempatkan organisasi masyarakat sipil sebagai mitra yang setara, yang ditunjukkan dengan tidak adanya institusi lokal yang cukup kuat dan mampu merepresentasikan kepemilikan dan kepentingan antar organisasi masyarakat sipil itu sendiri.

Penguatan peran organisasi masyarakat sipil dalam pembangunan berkelanjutan jelas membutuhkan dukungan sumberdaya. Tapi, sejatinya, bagaimana kita harus memandang relasi ‘keterbutuhan’ ini? Apa yang menjadi sumber daya utama dalam upaya mengawal inisiatif bersama? Sumber daya tidak bisa lagi hanya didefinisikan sebagai dukungan dana. Partisipasi dan keterlibatan publik, bahkan kini telah jauh lebih berharga. Kemitraan, jejaring, aliansi ataupun sindikasi telah menjadi tuntutan strategi.

Saat upaya mobilisasi berbuah terkumpulnya sekian jenis dan bentuk sumberdaya, maka kita akan dituntut untuk mempelajari seni pengelolaan energi, bukan sekedar pemahaman atas teori text book tentang manajemen. Energi sendiri adalah kekal. Yang terjadi adalah perubahan dari satu atau sekumpulan energi menjadi energi lain. Perubahan-perubahan yang berhasil dikreasi ini seharusnya membawa kita semakin dekat dengan tujuan bersama seluruh sektor, yaitu pembangunan yang lestari dan berkelanjutan, pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.